Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 22 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 22 - 2

Mo Mo pulang dengan mood buruk dan langsung duduk di sofa tanpa melepas sepatunya. Wei Yi dengan manisnya membantunya aganti sandal dan tanya dia kenapa, lelah? Kenapa Mo Mo tidak meneleponnya tadi?


"Hari ini kau sibuk seharian, siapa yang meneleponmu?"

"Zhou Lei."

Mo Mo murung lagi setelah itu. Maka untuk menyemangatinya, Wei Yi langsung saja memeluak Mo Mo. Sesaat, itu memang berhasil membuat Mo Mo sedikit membaik.


Tapi kemudian Wei Yi malah berkata bahwa menurut kelas terbuka Harvard, pelukan itu penting. Termasuk sentuhan, tidur, dan cinta.

Sebenarnya dia tidak ada maksud apa-apa, tapi ucapannya itu membuat Mo Mo jadi salah paham mengira Wei Yi memeluknya cuma karena Wei Yi pengen begituan dan langsung kesal menyuruh Wei Yi melepaskannya.


Dia bahkan langsung mengacuhkan Wei Yi dan berjalan ke kamarnya. Wei Yi dengan cepat menangkapnya dan menuntut kenapa Mo Mo marah. Tapi bukannya menjelaskan masalahnya, Mo Mo malah ketus menyuruh Wei Yi untuk memikirkannya sendiri.

"Karena ini?" Tanya Wei Yi lalu mulai mendekatkan wajahnya ke Mo Mo untuk menci~mnya... tapi langsung diblokir sama Mo Mo. Pfft!



Mo Mo jadi tambah kesal karenanya dan langsung membuka pintu kamarnya. Tapi dia melakukannya bersamaan dengan Wei Yi yang mendorong pintunya hingga membuat mereka berdua jadi terjungkal.

"Gu Wei Yi, tidak bisakah kau memikirkan hal lain?" Kesl Mo Mo yang masih yakin kalau Wei Yi cuma pengen begituan.

"Hal lain apa? Katakan saja terus terang, aku tidak mengerti."

"Jangan menyesal kalau aku to the point."

"Kenapa aku harus menyesalinya?"

Mo Mo sontak naik ke sofa untuk menyesuaikan level mata mereka sambil berkacak pinggang. "Kau tahu kalau aku lagi marah, lalu kenapa kau masih berusaha melakukan 'itu' padaku?!"

Wei Yi tersinggung. "Jadi itu yang kau pikirkan tentangku? Lupakan saja!" Wei Yi langsung pergi dengan kesal.


Shan Shan dan Fu Pei masuk ke sebuah kelas kosong untuk menghitung besarnya biaya pengeluaran perusahaannya Fu Pei. Setelah dihitung-hitung, ternyata pengeluaran perusahaannya Fu Pei 80 ribu lebih besar daripada budget-nya.

Tak ingin membuat Shan Shan khawatir, Fu Pei meyakinkan kalau dia masih punya banyak baju jersey limited edition yang bisa dia jual. Atau dia bisa minta ke ibunya, ibunya pernah bilang kalau dia akan menjual tasnya demi menyokong Fu Pei.

Shan Shan tidak setuju kalau dia minta duit ke ibunya. Kalau begitu, Fu pei akan menjual baju-baju jersey-nya saja.


Mo Mo dan Wei Yi nonton film seperti biasanya. Tapi kali ini, Wei Yi malah sengaja cari perkara dengan ngasih tahu spoiler film itu.

Mo Mo jadi kesal dan langsung mematikan TV-nya lalu masuk kamar tanpa menghabiskan mie bekicotnya, dia bahkan tidak mau repot-repot membersihkannya.


Shan Shan dan Fu Pei tengah mendiskusikan poster perusahaan mereka saat ponsel mereka tiba-tiba berbunyi secara bersamaan. Shan Shan dan telepon Mo Mo dan Fu Pei ditelepon Wei Yi dan keduanya langsung curhat secara bersamaan.

Mo Mo: "Aku bekerja keras untuk menyelesaikan karya seni tapi namaku bahkan tidak disebut lalu dia marah padaku."

Wei Yi: "Aku tidak marah padanya. Aku cuma tanya apa yang terjadi. Aku sudah tanya 100 kali, tapi dia diam saja."

Mo Mo: "Lihatlah sikapnya, kenapa juga aku harus memberitahunya."

Wei Yi: "Kalau dia tidak mau bilang, lalu buat apa aku menoleransinya?"

Mo Mo: "Aku tidak peduli, aku capek. Kalau dia tidak minta maaf padaku, aku tidak mau bicara padanya lagi!"

Wei Yi: "Kenapa juga aku harus minta maaf? Aku nggak salah! Minta maaf tanpa alasan dalam sebuah pertengkaran itu tidak masuk akal."

Mo Mo: "Ayo perang dingin, siapa takut?!"

Wei Yi: "Pokoknya aku tidak akan minta maaf!"


Tapi tak lama kemudian, akhirnya Wei Yi mau juga mengalah dengan mengetuk pintu kamarnya Mo Mo. Dia sengaja menakut-nakuti Mo Mo dengan mengklaim kalau tadi ada yang mengetuk pintunya entah siapa (setan mungkin?).

Rencananya sukses membuat Mo Mo mau keluar kamar lalu duduk meringkuk di sofa dengan ketakutan. Parahnya lagi, Wei Yi malah sengaja memutar film horor. Mo Mo sotak mengubur kepalanya di balik bantal saking takutnya. Wei Yi malah sengaja mematikan TV-nya biar tambah kelihatan seram.

"Gu Wei Yi, jangan menakutiku. Karena aku benar-benar akan menangis."


"Aku kan cuma bercanda." Wei Yi jadi merasa bersalah. "Maafkan aku. Ini salahku. Jangan marah. Apa kau menangis? Jangan menangis."

"Aku nggak nangis!"

"Baguslah kalau begitu."

Mo Mo jadi tambah kesal mendengarnya. Maka Wei Yi langsung saja menawarkan tangannya untuk Mo Mo gigit dan melampiaskan kekesalannya. Mo Mo langsung menggigitnya dengan ganas dan Wei Yi tidak melawan sedikitpun biarpun dia kesakitan.


Dan begitu Mo Mo puas menggigitnya, Wei Yi langsung menarik Mo Mo ke dalam pelukannya. Apa sebenarnya terjadi pada Mo Mo hari ini?

"Karyakua menang dalam kompetisi design, tapi perusahaan tidak menulis namaku di dalam karyaku."

"Apa nama kompetisinya?"

"Kontes Desain Iklan Pena Emas. Buat apa kau tanya?"

"Aku bisa meretas website mereka dan mengubah semua karya atas namamu."

Suasana hati Mo Mo mulai membaik berkat ucapannya itu. Tapi tidak perlu lah. Baiklah, Wei Yi akan menurutinya.


Keesokan harinya, Mo Mo kebingungan di dapur mencari mie bekicotnya yang entah menghilang ke mana. Apa Wei Yi melihat mie bekicotnya? Anehnya, Wei Yi malah jadi canggung mengingatkan Mo Mo bahwa kemarin Mo Mo sudah memakannya.

"Aku kemarin lagi marah, makanya aku cuma makan sedikit. Sekaang aku pengen banget. Apa kau melihat mie bekicotku?"

Wei Yi yang berniat mau menghindar, akhirnya menyerah dan memberitahu Mo Mo kalau dia menyimpannya di laci atas. Tapi tempat itu agak ketinggian buat Mo Mo jadi Mo Mo kesulitan mencarinya.


Maka Wei Yi langsung mengangkat Mo Mo hingga akhirnya Mo Mo menemukan mie bekicotnya tersimpan di dalam panci. Kok bisa ada di sini?

"Aku menaruhnya di situ kemarin."

"Kenapa?"

"Karena kemarin kau mengacuhkanku, jadi aku ingin kau memohon padaku untuk mengambilkannya untukmu. Weeeek!"


Setibanya di lab, Zhou Lei langsung nyerocos antusias memberitahu Wei Yi kalau hasil ujiannya akan diumumkan hari ini. Apa Wei Yi gugup. Wei Yi malah cuek, nggak gugup sama sekali.

Zhou Lei yakin seyakin-yakinnya kalau hasilnya pasti akan jauh lebih bagus daripada Wei Yi. Soalnya setelah kemarin dia mencocokkan jawaban-jawaban Wei Yi, dia merasa nilainya jauh lebih tinggi daripada nilainya Wei Yi.

Belakangan ini, Jian Shi juga jadi baik banget padanya. Dia yakin kalau Jian Shi baik padanya karena Jian Shi tahu kalau dialah yang akan pergi ke Jerman. Makanya Jian Shi ingin membangun hubungan baik dengannya. (Pfft! Kayaknya bukan karena itu deh)

Wei Yi santai saja menghancurkan kebahagiaannya dengan mengaku kalau Jian Shi baik pada Zhou Lei karena dia pernah bilang ke Jian Shi bahwa Zhou Lei pernah direhabilitasi.


Prof Jiang dan Jian Shi masuk tak lama kemudian dengan membawa hasil ujian mereka. Prof Jiang berbasa-basi lebih dulu dengan memuji-muji mereka, terutama Zhou Lei yang notabene bukan jurusan fisika tapi mampu menjawab soal-soalnya dengan baik selayaknya mahasiswa jurusan fisika.

Tapi lagi-lagi, Zhou Lei harus kecewa saat Prof Jiang dengan tak enak hati mengumumkan bahwa nilainya Wei Yi agak 'sedikit' lebih bagus daripada Zhou Lei. Sedikit doang kok beda nilainya.

Tapi Zhou Lei tak percaya dan langsung merebut kertas ujian mereka yang ternyata beda 19 poin. Prof Jiang mengingatkan Zhou Lei kalau Wei Yi bisa lebih baik itu karena Wei Yi memang dari jurusan fisika. Tapi jangan patah semangat, suatu hari nanti, Zhou Lei pasti bisa mengalahkan Wei Yi kok. Tapi Zhou Lei tetap sulit menerima kenyataan ini dan terus nyerocos sendiri.


Yu Yin dan Wei Yi lalu ke kantornya Prof Jiang dimana mereka diberikan segala informasi yang mereka butuhkan. Mereka juga diberitahu kalau mereka harus checkup kesehatan dan vaksinasi sebelum berangkat.

Tapi apa mereka sudah memberitahu orang tua mereka tentang masalah ini? Soalnya dulu pernah ada mahasiswi yang pergi ke luar negeri tanpa memberitahu orang tuanya. Alhasil, orang tuanya jadi kebingungan mencarinya.

Yu Yin mengaku sudah, tapi Wei Yi belum. Soalnya dia sejak awal tidak yakin, makanya dia sengaja tidak bilang-bilang. Lagian biasanya dia selalu membuat keputusannya sendiri baru setelah itu dia akan memberitahu orang tuanya.

"Lalu bagaimana dengan pacarmu? Kau juga belum memberitahunya?"

"Belum."

Bersambung ke episode 23

0 komentar

Post a Comment