Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 6 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 6 - 2

Mo Mo pulang larut malam lagi sampai harus membangunkan Kepala Asrama dari tidurnya. Terang saja dia langsung diomeli. Kalau Mo Mo sering pulang larut seperti ini, mending dia keluar saja dari asrama biar tidak merepotkan. Perbuatan Mo Mo ini melanggar aturan asrama.


"Akan kulakukan apapun sesukaku, ada rumah yang menungguku di luar sana." Gumam Mo Mo sinis.


Karena sudah beberapa hari dia mengajari Fu Pei, maka hari ini Shan Shan menyuruhnya untuk mengerjakan tes. Tapi Fu Pei malah menuntut hadiah, dia mau bertemu Mo Mo.

Shan Shan heran, kenapa Fu Pei tidak terus terang saja kalau dia ingin bertemu Mo Mo? Kenapa harus mengajaknya segalanya?

"Kan nggak surprise nanti. Kalau aku tiba-tiba muncul saat kalian berada di rumahnya, itu bisa jadi kejutan."

"Aku sungguh tidak mengerti pikiranmu."

"Hah? Kau bilang apa?" Fu Peia mendadak mendekat dan sepertinya itu membuat Shan Shan jadi gugup. Dia sontak mendorong Fu Pei menjauh darinya dan menyetujui permintaannya.

Kalau Fu Pei berhasil menyelesaikan tes ini, dia janji akan membantu mempertemukan mereka. Fu Pei langsung semangat mengerjakan tesnya. Saking fokusnya, dia sampai tidak menyadari Shan Shan yang tampaknya mulai tertarik padanya.


Mo Mo tiba-tiba dipanggil seorang temannya yang meminta bantuannya untuk menggambar ulang sebuah poster untuk graduation fair. Tapi Mo Mo terpaksa menolaknya, dia sibuk banget dengan kerja magang dan skripsinya.

"Kukira kau sangat tertarik pada periklanan, makanya lebih enak melakukannya bersama denganmu. Yah sudah deh, aku cari orang lain saja kalau kau tidak bisa."

Tapi seketika itu pula Mo Mo teringat ucapan Wei Yi bahwa lebih baik jika kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Ingatan itu kontan membuat Mo Mo berubah pikiran dan akhirnya mau juga dia membantu temannya itu.


Dia bahkan langsung mengerjakannya malam itu juga. Shan Shan sampai heran melihatnya, apa dia bahkan sudah menyelesaikan skripsinya dan magangnya sampai dia punya waktu untuk mengerjakan ini? Bagaimana dengana magangnya?

"Aku ingin mengundurkan diri."

Shan Shan kurang setuju. Dia tahu kalau Mo Mo menghadapi banyak kesulitan belakangan ini, tapi dia pasti akan menyesal kalau dia menyerah hanya karena kesulitan itu.

"Aku menyerah bukan karena itu, aku hanya berpikir bahwa lebih penting mengerjakan pekerjaan yang kita cintai."

Semalaman dia mengerjakan poster itu hingga akhirnya di baru selesai keesokan paginya.


Dan saat dia menyerahkan laporan keuangan ke atasannya di kantor, dia akhirnya mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri. Atasannya jelas heran, padahal Mo Mo bekerja dengan baik, dia bahkan ingin menjadikan Mo Mo sebagai pegawai tetap.

"Terima kasih. Tapi saya sudah memikirkannya cukup lama. Saya lebih ingin menjadi advertising designer."

"Advertising? Bagaimana bisa Ori Advertising mencuri pegawaiku."

"Bukan, bukan. Saya belum mendapat pekerjaan, saya hanya menyukai advertising dan ingin menjadi advertising designer."

Jadi maksudnya Mo Mo tidak suka dengan finance? Memang sih orang mungkin mudah bosan dengan finance, tapi kadang menyenangkan juga. Mereka bahkan bisa menggunakan ilmu mereka untuk menyelamatkan suatu perusahaan.

"Benarkah? Bagaimana caranya?"

"Kenapa juga aku harus memberitahumu kalau kau tidak menyukai pekerjaan ini? Sudahlah, kalau kau tidak menyukainya, maka aku tidak akan memaksamu. Kuharap kau akan mendapatkan pekerjaan yang kau sukai."

"Terima kasih."

Kembali ke kampus, Mo Mo melihat poster perekrutan advertising designer itu dengan senyum merekah penuh harap.


Prof Jiang masuk lab tapi malah mendapati Wei Yi sedang mengerjakan skripsinya alih-alih melakukan penelitiannya. Jelas saja Prof Jiang langsung ngomel-ngomel lagi mengingatkan Wei Yi bahwa tugasnya selama di lab ini adalah melakukan penelitian. Apa dia bahkan sudah menyelesaikan skripsinya, bagaimana bisa dia malah mengerjakan skripsi?

"Saya sudah menyelesaikannya." Santai Wei Yi, kedua rekannya membenarkan. Prof Jiang kontan canggung mendengarnya, tapi ia ngotot menyuruh Wei Yi untuk membantu kedua rekannya saja kalau sudah selesai.

Tapi saat Prof Jiang mengecek laptopnya Wei Yi, dia malah mendapati Wei Yi sedang membrowsing nama marga Si Tu. (Pfft! Kangen banget yah sama Mo Mo?) Prof Jiang bingung, apa dia beneran sedang mengerjakan skripsi?

"Saya cuma sedang mencari tahu asal-usul nama marga."

"Ulangi lagi penelitianmu dan fokus pada tugasmu." Omel Prof Jiang.


Saking kangennya sama Mo Mo, Wei Yi melangkahkan kakinya sampai gedung asrama perempuan. Dia hanya menatap gedung itu dengan sedih lalu berniat pergi. Tapi tepat saat itu juga, Mo Mo baru keluar dan tanya sedang apa Wei Yi di sini?

"Aku... tersesat." (Pfft!)

Wei Yi beralasan kalau dia tidak familier dengan daerah ini, soalnya kan sudah lama dia tidak jalan di sini, makanya dia tersesat.

Mo Mo percaya-percaya saja, memangnya Wei Yi mau pergi ke mana? Bukannya jawab, Wei Yi malah tanya balik Mo Mo mau pergi ke mana?

"Mau interview."

"Kalau begitu, kita bisa pergi... bersama."

Hah? Mo Mo bingung, mengira kalau Wei Yi tahu dia mau interview di Ori Advertising. Dari mana Wei Yi mengetahuinya?

"Aku... dengar dari orang."

"Gosip cepat sekali menyebar."

"Ayolah."


Mereka tiba tak lama kemudian, Mo Mo mengira kalau Wei Yi mau pergi ke suatu tempat di sekitar sini, jadi dia mengucap bye-bye ke Wei Yi. Tapi dia nggak tahu kalau Wei Yi sebenarnya kemari khusus untuk mengantarkannya.

Dia bahkan setia menunggui Mo Mo sampai selesai. Jelas saja Mo Mo heran melihatnya masih ada di sana saat dia keluar. Seperti biasanya, Wei Yi sengaja nggak jawab, malah mengalihkan topik menanyakan interview-nya Mo Mo.

"Seharusnya oke, mereka tanya kapan aku bisa mulai bekerja."


Mereka lalu pulang bersama dan mereka berpisah sesampainya di depan asrama perempuan. Tapi saat Wei Yi hendak pergi, tiba-tiba dia baru ingat dengan kertas-kertas coretannya Mo Mo.

Wei Yi jadi galau antara ingin masuk untuk mengembalikannya ke Mo Mo tapi juga ragu. Kepala Asrama yang melihatnya berdiri di depan sambil bawa kertas, mendadak maju mengonfrontasinya, mengira kalau Wei Yi itu sales yang mau jualan. Wkwkwk!

"Saya bukan sales."

"Masa? Terus ngapain kau berdiri di sini sambil bawa selebaran? Apa kau sales baru? Aku sudah kerja di sini selama bertahun-tahun, aku tahu banget apa yang mau kau lakukan di sini. Cepat pergi!"

"Saya bukan sales!"


Untung saja saat itu juga, Prof Jiang mendadak muncul dan sepertinya ia akrab dengan Kepala Asrama. Prof Jiang menegaskan kalau Wei Yi ini muridnya, bukan sales.

Bingung, Kepala Asrama langsung merebut kertas-kertas yang dipegang Wei Yi dan saat itulah dia baru sadar kalau itu kertas coret-coretan.

"Si kutu buku juga? Aku sungguh tidak mengerti apa yang ada dalam pikiranmu." Gerutu Kepala Asrama.


Yah sudah lah, kalau begitu, Wei Yi pergi saja. Tapi baru selangkah dia berjalan, tiba-tiba dia mendengar Prof Jiang dan Kepala Asrama berdebat bak sepasang suami-istri yang lagi ngambek-ngambekan. Hah? Wei Yi heran melihat interaksi mereka.

Apalagi kemudian Prof Jiang meminta kunci rumah ke Kepala Asrama soalnya Prof Jiang mau mengambil dokumen di rumah, dan Kepala Asrama langsung saja melemparkan kuncinya ke Prof Jiang.

Wei Yi benar-benar penasaran. "Bibi, kau dan Prof Jiang..."

"Oh, dia suamiku." Ujar Kepala Asrama. Pfft! Wei Yi speechless.


Mo Mo akhirnya selesai mengetik skripsinya dan langsung teriak-teriak heboh mengumumkannya. "Sekarang, aku ingin mendedikasikan skripsiku ini untuk..." (tulilut-lilut~~~ ponselnya mendadak berbunyi) "Gu Wei Yi."

Mo Mo mengangkat teleponnya dan Wei Yi tiba-tiba saja menyuruhnya pulang sekarang juga. Hah? Pulang ke mana? Mo Mo bingung. Rumahnya Wei Yi lah, ibunya Mo Mo mau datang lagi.

What?! Apa Wei Yi bilang-bilang ke ibunya kalau dia sudah pindah? Wei Yi menyangkal. Mo Mo sontak panik mengepaki barang-barangnya. Shan Shan heran, dia ngapain?


"Aku kan sudah bilang, ibuku mau menjodohkanku dengan Gu Wei Yi. Dia memaksaku untuk serumah dengannya. Gu Wei Yi barusan bilang kalau ibuku mau datang ke rumahnya. Aku harus bergegas balik dan pura-pura seolah aku tidak pernah pindah."

Entah apa yang Shan Shan pikirkan, tapi sepertinya dia punya ide lalu usul bagaimana kalau dia ikut dengan Mo Mo? Shan Shan cuma penasaran aja kok ingin melihat rumahnya si jenius fisika itu.

Mo Mo bilang kalau rumahnya sangat membosankan kayak kamar mayat. Dan lagi, ibunya Mo Mo pasti akan lebih percaya kalau dia ikut dan tidak akan pernah datang lagi untuk mengecek. Hmm, benar juga. Kalau begitu, Mo Mo setuju.


Wei Yi kayaknya senang banget deh Mo Mo mau dateng. Hehe. Dia bahkan semangat membersihkan seluruh rumah untuk menyambut kedatangan Mo Mo dan tak sabaran menatap pintu terus.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Wei Yi hampir saja senang, tapi malah melihat Mo Mo datang bawa teman.

"Di mana ibuku?"

"Dia tidak jadi datang." (Pfft! Ternyata cuma siasat buat bikin Mo Mo balik)

"Kenapa?"

"Dia main mahjong dengan orang lain."

Mo Mo langsung kesal merutuki ibunya. Kalau begitu, dia mau balik ke asrama aja. Wei Yi ingin mencegah, tapi tiba-tiba saja Shan Shan mencegahnya duluan dan memberitahu Mo Mo bahwa sebentar lagi akan ada yang datang juga. Hah? Siapa?


Baru dibicarakan, bel pintu mendadak berbunyi dan ternyata yang dimaksud Shan Shan adalah Fu Pei yang datang dengan membawa banyak snack.

"Ayo kita rayakan Mo Mo yang sudah selesai menulis skripsinya!"

Dia benar-benar bersikap seolah di antara mereka tidak pernah ada masalah apapun padahal suasana benar-benar terasa sangat canggung. Mo Mo bahkan tidak mau menatapnya.


Berusaha mencairkan suasana, Shan Shan usul agar mereka nonton film horor saja. Jadilah mereka nonton film horor dengan menutup semua tirai biar tambah seram.

Para wanita saling merapat ketakutan dan lucunya, Fu Pei juga meringkuk ketakutan. Cuma Wei Yi seorang yang tidak takut sedikitpun, malah geli melihat reaksi Mo Mo.

Tiba-tiba hantunya muncul dan Shan Shan refleks mendorong Mo Mo saking takutnya, untung saja Wei Yi sigap menangkapnya. Mo Mo malah protes menyalahkan Wei Yi, kenapa dia tidak bilang-bilang kalau hantunya mau muncul?

"Kau sendiri yang melarangku ngomong."

"Seharusnya kau bilang-bilang!"

"Jadi aku harus bilang atau tidak?"

"Au ah gelap!"


Fu Pei stres melihat interaksi mereka dan akhirnya melampiaskannya dengan minum-minum sampai mukanya memerah.

Mo Mo mencari snack rasa tomat tapi tidak ada. Mendengar itu, Fu Pei berniat mau pergi untuk membelikannya tapi Mo Mo menolak dengan ketus. Fu Pei jadi semakin sedih mendengarnya, apalagi Mo Mo bicara tanpa mau menatap matanya.

"Kalian dipaksa tinggal bersama oleh ibumu, kan?"

"Iya. Kenapa?"

"Kenapa kau tidak bilang padaku?"

"Kenapa juga aku harus bilang padamu? Kau bukan pacarku!"


Saat akhirnya film selesai tak lama kemudian, Fu Pei sudah teler dan Shan Shan tampak benar-benar sangat mencemaskannya. Wei Yi mau membuatkannya air madu dan langsung memanggil Mo Mo ke dapur untuk membantunya.

Selama mereka sibuk di dapur, Shan Shan mencoba membangunkan Fu Pei dan mengajaknya pulang. Tapi dalam keadaan setengah sadarnya, Fu Pei malah melihat wajah Mo Mo di dalam diri Shan Shan... dan langsung menariknya mendekat untuk menci*mnya. OMG! Dia mau melakukannya dia hadapan Mo Mo?

Epilog:

 

Ternyata hari itu, ibunya Mo Mo menelepon Wei Yi dan memberitahu bahwa ia mengirim sesuatu pada Wei Yi. Dan telepon itulah yang kemudian Wei Yi manfaatkan untuk membuat Mo Mo balik ke rumahnya.

Bersambung ke episode 7

3 komentar:

  1. Selalu tak sabar nunggu lanjutan drama ini.... Manis sekali interaksi kedua main leadnya

    ReplyDelete
  2. Momo sama wei yi sweet bnget..

    ReplyDelete