Friday, April 26, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 17 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 17 - 2


Beauty masih juga belum datang padahal timnya Pat sudah selesai memperagakan rancangan baju ketiga mereka. Klien mereka penasaran, apa ini yang terakhir? Tee terpaksa mengiyakannya.

Pat sudah senang, tapi Beauty mendadak muncul. Tapi berhubung bajunya belum siap, Beauty dengan sengaja mengulur waktu dengan menunjuk Tee untuk membantu mempresentasikan rancangannya.


Sementara Tee presentasi, Beauty bergegas ke ruang designer dan menyuruh para designer menangani bajunya yang belum selesai dijahit itu. Beauty tanya apa mereka punya jarum, lem atau plester. Tapi tentu saja para designer itu bilang tidak punya semuanya.

Beauty sontak panik celingukan kesana-kemari sampai akhirnya dia melihat sebuah kabel yang dipasangi plester. Beauty bergegas menggunakan plester seadanya itu untuk menutup jahitan roknya.

Dia lalu meminta si model untuk memakainya. Dia meyakinkan si model untuk pede aja. Tapi si model tidak mau, dia takut plesternya copot di tengah-tengah acara, bisa malu dia. Beauty galau.


Tee sudah selesai dengan presentasinya, tapi Beauty masih juga belum muncul. Kratua bergegas kembali dan dengan antusias memberitahu Pat kalau baju Beauty belum selesai. Dia pasti tidak akan berhasil.


Pat senang. Tapi kemudian Beauty muncul dan memperagakan baju rancangannya sendiri. Dia berlenggak-lenggok dengan profesional, tapi tiba-tiba saja plesteran roknya robek.

Dari tatapan geli semua orang, Beauty menyadari apa yang terjadi dengan roknya. Tapi tentu saja Beauty sudah profesional jadi model dan terus saja melenggang dengan percaya diri. Para klien mereka sampai kagum melihatnya. Beauty memang seorang diva, hebat!


Beauty kecewa. Dia pasti tidak akan terpilih. Tapi para designer itu menyemangati Beauty. Mereka suka kok dengan design-nya Beauty, unik dan luar biasa. Beauty juga percaya diri tadi.

"Terima kasih. (Baju) ini akan kelihatan lebih bagus jika selesai. Baju-baju kalian juga stylish. Aku suka design kalian."

Kratua lalu datang memberitahu mereka bahwa sekarang saatnya pemilihan. Semua designer di suruh hadir. Tapi Beauty sebaiknya ganti baju dulu. Kalau bajunya terpilih dan klien mereka melihat bagian yang robek itu, mereka mungkin akan berubah pikiran.

Yang tidak disangkanya, Beauty dengan bijak berkata. "Biarkan saja. Bukankah kita harus tulus pada klien kita? Jika bajuku tidak terpilih, maka artinya ini tidak cukup bagus. Aku harus berusaha lebih keras lagi. Benar?"

"Benar!" Jawab para designer serempak.

Bahkan Kratua pun diam-diam kagum. "Dia hebat. Sungguh!"


Saat menunggu klien mereka kembali, Pat memperhatikan Beauty dan Tee saling bertukar senyum yang jelas membuatnya cemburu.

Klien mereka akhirnya kembali tak lama kemudian dan mereka memilih... baju keempat. Beauty terkejut, Tee pun senang dan senyum Pat langsung menghilang seketika. Mereka suka dengan design-nya Beauty yang unik dan sesuai syarat mereka.

Kratua ikut senang sampai ikut jejeritan bersama Beauty... sebelum kemudian ingat dia memihak siapa dan langsung berubah nyinyir. Malah para designer yang heboh jejeritan untuk Beauty. Pat tidak terima. Baju itu bahkan belum jadi sepenuhnya.

"Tapi kami suka idenya. Itu baru."

"Dia tulus mempresentasikan idenya. Dia pekerja keras dan tidak menyerah pada rintangan. Aku suka itu karena itu sesuai dengan visi perusahaan kami."


Dewi dan Lalita pun senang dengan keberhasilan Beauty. Tapi sedetik kemudian, Dewi berubah serius lagi dan mengingatkan Lalita untuk tidak terlalu senang dulu. Segalanya bisa selalu berubah.

"Tapi setidaknya, bisakah saya berdoa agar dia memiliki keberanian untuk terus berbuat kebaikan?"

Tentu saja. "Tugas kita memang mendoakan manusia yang berbuat kebaikan."


Tee mengikuti Beauty keluar dan mengucap selamat untuknya. Dia juga berterima kasih karena Beauty telah membuat pekerjaan ini jadi milik mereka. Beauty juga berterima kasih karena Tee membantu presentasinya tadi. Mungkin dia tadi mendapatkan poin tambahan berkat Tee.

"Kau mau pulang, kan? Aku akan mengantarkanmu."

"Tidak usah. Aku bawa mobil kok. Jadi kau bisa bepergian dengan Khun Nong Orn sesuka hatimu." Sinis Beauty. "Aku pergi, yah."

"Tunggu! Besok kita ada meeting dengan para eksekutif. Kau harus hadir. Dan berpakaianlah yang pantas sebagai presiden."

Beauty santai, kapan meetingnya? Tee heran dengan reaksinya, apa Beauty tidak senang karena akhirnya diresmikan sebagai presiden?


"Kenapa aku harus senang? Kurasa ini sudah terlalu terlambat. Seharusnya kau mengumumkannya sejak lama."

"Apa kau tidak merasa terlalu sombong? Sebenarnya aku masih akan men-trainingmu satu bulan lagi. Dan juga, pekerjaanmu hari ini tidak sesuai standar. Kau cuma beruntung."

"Aku tidak percaya. Aku tahu kemampuanku sendiri. Dan akan kubuat Thanabavorn jadi nomor satu selama-lamanya!"


Malam harinya, Beauty ngegalau ria di kamarnya antara pengen pergi ke Tee tapi terus saja bersikeras menahan diri. "Tapi aku kangen... kangen Seua! Aku tidak merindukanmu, gendut mata empat!"


Tepat saat itu juga, dia melihat kristalnya berpendar. Melihat warna emasnya hampir penuh, Beauty sontak jejeritan saking senangnya. Kalau begitu, sekarang hanya tinggal satu syarat lagi. Menemukan pria yang dia cintai lebih dari hidupnya sendiri sesegera mungkin.


Korn pulang dan langsung membahas presentasi yang kabarnya menyenangkan tadi. Pat langsung kesal. Menyenangkan apanya, Beauty hampir mempermalukan mereka semua. Bagaimana bisa dia mempresentasikan baju yang belum jadi?

"Bukankah klien memilih bajunya Beauty?"

Pat mengklaim kalau itu hanya karena Beauty model profesional dan dibantu Tee juga. Ini tidak adil. Para anak buahnya tidak ada yang kaya dan terkenal, tidak ada yang membantu mereka.

Design para designernya jauh lebih baik daripada punyanya Beauty, tapi klien mereka malah memilih baju jeleknya Beauty.

"Pat, apa kau tahu kalau ucapanmu itu menghina klien kita? Kau tidak boleh melakukan itu!."

"Kenapa ayah tidak tinggal dengannya saja kalau ayah memihaknya?!"

"Pat. Kapan kau akan bicara baik-baik padaku?"

"Dan kapan ayah akan sadar kalau aku jauh lebih baik daripada Beauty?!"


Pat langsung pergi ke halaman belakang sambil menggerutu kesal. Dia bersumpah akan menunjukkan pada semua orang betapa jahat dan sombongnya Beauty.

Tepat saat dia melampiaskan kekesalannya pada tanaman terdekat, burung-burung peliharaan mereka langsung bercicit cuit. Pat tiba-tiba punya ide licik.


Keesokan harinya, Beauty santai menikmati pijatan para pembantunya. Tapi dugaan Dewi benar. Kepedean mengira dirinya sudah sukses dan kutukannya akan segera berakhir, Beauty malah kembali ke sikap angkuh dan egoisnya. Saat Pon datang menanyakan dia mau pakai dress apa, Beauty malah dengan kasarnya menjawab.

"Kau tidak lihat aku sedang menutup mata. Kau punya otak, pikirkan sendiri. Apa perlu kau datang saat aku sedang santai?!"

"Maaf."

"Apa kau menangis? Nangis aja di luar sana! Hari ini adalah hari baikku. Aku tidak mau melihatnya (tangisan)!"


Gara-gara sikapnya itu, warna hitam kristalnya bertambah lagi dan Dewi muncul kembali tak lama kemudian dan membekukan Beauty.

"Kau jadi sombong dan jahat seperti Lallalit yang dulu. Trainingnya jadi sia-sia. Jimatnya hampir dengan penuh dengan kebaikan, tapi sekarang jadi berkurang lagi karena kau tidak mempertahankan kebaikanmu. Kalau begitu, bersiaplah menerima karma yang akan datang. Waktumu cuma tinggal 35 hari."

Dewi lalu pergi. Beauty mengecek kristalnya dan langsung cemas melihat warna hitamnya kembali bertambah.


Beauty terlambat datang ke rapat eksekutif mereka. Begitu dia datang, Tee pun resmi memperkenalkan Beauty sebagai presiden resmi Thanabavorn setelah lulus training di semua departemen. Jadi sekarang dia akan training terakhir di kantor pusat sebagai eksekutif.

Thana lalu menyambut Beauty dengan buket bunga. "Apa kau tahu betapa leganya aku? aku yakin kedua orang tuamu juga bangga padamu."

"Terima kasih."


Pat bertanya sinis apakah Beauty punya kebijakan sebagai presiden baru perusahaan ini. Tak gentar, Beauty dengan bijak berkata kalau dia masih sangat baru dan kurang pengalaman, jadi dia memohon agar mereka mengajarinya.

Dan tentang pertanyaan Pat, tentu saja akan butuh waktu baginya untuk mempelajari perusahaan ini secara menyeluruh agar dia bisa memberikan detil kebijakannya.

"Dan yang paling penting, aku percaya pada visi perusahaan yang berkata 'Thanabavorn kita akan berjalan dengan elegan dan tak ada seorangpun yang bisa menarik mundur kita'."

Semua orang sontak bertepuk tangan kagum kecuali Pat. Tapi kemudian ada seseorang yang menaruh kotak hadiah di depan ruang rapat. Hadiah itu ditujukan untuk Beauty.


Beauty langsung semangat membuka kotak hadiah itu. Tapi isinya ternyata burung yang langsung berterbangan. 

Beauty terkejut dan ketakutan. Tee langsung sigap melindungi Beauty, sementara yang lain sibuk memukuli burung-burung itu.

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^