Wednesday, April 17, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 14 - 2

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 14 - 2


Tee lalu menelepon Orn dan meminta maaf karena tidak bisa datang tadi. Orn tidak mempermasalahkannya. Dia mengerti kok kalau tadi hujan deras dan macet, mereka bisa bertemu lagi di lain hari.

"Apa kau ada waktu besok?"

Beauty sontak cemburu dan langsung terbang dari tangan Tee. Tee bingung dan refleks tanya. "Kau mau ke mana?"

Mengira Tee tanya padanya, Orn berkata kalau dia tidak akan pergi ke mana-mana. Kalau begitu, Tee akan menjemput Orn di tokonya besok. Orn langsung berbunga-bunga.


Mami datang tak lama kemudian dan menemukan putrinya lagi mesam-mesem bahagia. Orn langsung antusias memberitahu Mami kalau besok Tee akan menjemputnya di toko.

"Jadi kau sudah memutuskan untuk memilih Thanabavorn, yah?"

"P'Tee belum mengatakan hal seperti itu, mami."

"Orn, dengar yah. Putriku cantik dan kaya. Kitalah yang harus memilih dan bukannya membiarkan mereka memilih kita."

"Tapi aku ingin P'Tee memilihku lebih daripada aku memilih dia."


Melihat si burung yang lagi ngambek, Tee langsung gemas menggodanya sampai membuat Beauty jadi tambah sebal. "Jangan senyum-senyum sama aku!"

 

Tapi kemudian Beauty bersin-bersin. Melihat si burung yang tampaknya sedang sakit, Tee langsung memeluk Beauty dan membelainya lembut.

"Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih nyaman? Kau harus baik-baik saja, mengerti? Kau tidak boleh sakit." Ujar Tee lalu mengec*p lembut kening Beauty dan membiarkab Beauty tertidur di d**anya.

Beauty terbangun tak lama kemudian sambil batuk-batuk, sepertinya dia sakit beneran sekarang. Kepalanya sakit, tapi kemudian dia melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul 5 pagi. Beauty langsung bercuit-cuit pamit ke Tee lalu pergi.


Saat Bibi Jan sedang menyiapkan sarapan, Pon tiba-tiba datang dengan cemas dan memberitahu kalau Beauty sedang sakit, dia terbaring tak berdaya di ranjangnya.

Para pelayan sontak bergegas naik untuk merawat Beauty. Tepat saat itu juga Tee datang untuk menjemputnya, tapi malah diberitahu kalau Beauty sedang sakit.


Bibi Jan dan para pelayan sibuk merawat Beauty. Dia terbangun tak lama kemudian. Wajahnya pucat dan kepalanya sakit, tapi dia tetap bersikeras mau pergi bekerja.

Bibi Jan berusaha mencegahnya dan menyarankannya untuk periksa ke dokter. Tapi Beauty tidak mau, dia harus bekerja.


Tee mondar-mandir di luar kamar Beauty dengan cemas dan melihatnya keluar tak lama kemudian sambil bersin-bersin. Tapi saat Tee mencemaskan sakitnya, Beauty menyangkal sakit dan mengklaim kalau dia cuma sedikit tidak enak badan.

"Kau pasti kehujanan, kan? Aku kan sudah bilang kalau aku akan mengantarkanmu kemarin. Kenapa kau malah melarikan diri dariku?"

"Aku pulang dengan temanku, kok."

"Teman yang mana?"

"Kenapa juga kau mau tahu?"


"Aku menelepon semalam dan Bibi Jan bilang kalau kau tidak pulang. Kau itu wanita, jadi jangan terlalu sering menginap di luar. Reputasimu bisa hancur nanti."

"Aku tahu mana yang cocok untukku dan mana yang tidak. Kau tidak perlu khawatir. Temanku ini sangat bisa diandalkan seperti mengandalkan dirimu sendiri." Ujar Beauty penuh arti.

"Aku tidak akan mengandalkan seseorang yang tidak kukenal dengan baik. Kau itu orang terkenal. Orang-orang yang berteman denganmu mungkin melakukannya hanya untuk memanfaatkanmu."

Beauty tahu itu. Dia sekarang sudah menjadi lebih pintar daripada sebelumnya kok. Dia sudah bisa membedakan mana orang-orang yang memanfaatkannya dan orang-orang yang tulus padanya.

"Baguslah. Tapi akan jauh lebih baik kalau kau tidur di rumah sendiri."


"Akan kucoba. Tapi... terkadang susah. Lebih sulit daripada yang bisa kau bayangkan."

Tee heran mendengarnya, apa ada masalah? Beauty cepat-cepat pasang senyum dan menyangkalnya. Ayo, berangkat. Presiden kan tidak boleh terlambat, itu aturan perusahaan.

Tapi saat dia berbalik, kepalanya langsung pusing. Dia berusaha tetap kuat dan terus berjalan. Tapi tiba-tiba saja dia pingsan. Untung saja Tee sigap menangkapnya dan langsung berteriak memanggil Bibi Jan.


Pat dan Kratua ke kantornya Tee, tapi sekretarisnya memberitahu kalau Tee sekarang keluar untuk mengantarkan Beauty ke rumah sakit. Tapi dia tidak tahu informasi apapun selain itu sampai Pat kesal dibuatnya.


Dalam tidurnya, Beauty bermimpi bertemu kembali dengan ibunya. Beauty kontan memeluknya dengan berlinang air mata haru. "Aku rindu padamu, bu."

"Ibu juga merindukanmu."

"Jangan tinggalkan aku lagi, yah? Tinggallah bersamaku."

Tapi tidak bisa, Lalita harus pergi sekarang. Beauty panik dan berusaha mencegahnya pergi, tapi Lalita terus berjalan pergi meninggalkannya.

Beauty tersentak bangun sambil berteriak memanggil ibunya. Nee dan Tee yang menungguinya sontak cemas melihatnya. Beauty pun langsung memeluk Nee dan mengaku kalau barusan dia memimpikan ibunya. Nee memluknya dan membelainya lembut sampai Beauty mulai tenang kembali.

"Sepertinya kau sudah baikan. Apa kau lapar? Apa kau bisa makan sekarang?" Tanya Tee 

Tapi Beauty tidak mau makan. Nee rasa Beauty memang tidak akan bisa memakan apapun sekarang mengingat dia baru pulih. Jangan khawatir, Nee janji akan membuatkan sup untuk Beauty nanti malam.

"Malam? Sekarang sudah jam berapa, bi?"

"Baru jam 2 siang lebih." Jawab Nee. Beauty lega, masih ada waktu.


Pulang kerja, Somcheng datang bersama Piwara yang mengaku datang mewakili Pat lalu menyodorkan amplop berisi cek titipan Pat yang jumlahnya cukup besar.

Rang langsung antusias melihat jumlah sebanyak itu. Tapi Seenuan menolak dan mengembalikan cek itu. Dia berterima kasih dengan nada agak sinis dan mengingatkan bahwa perusahaan sudah mengurus biaya perawatannya dan kompensasi untuknya.


Pat tidak terima saat Piwara mengembalikan cek itu padanya dan langsung beranjak pergi ke rumah sakit. Dia harus menjernihkan segalanya dengan Seenuan. Semua ini kecelakaan, jadi Seenuan tidak boleh menyalahkannya.

Belum sempat pergi, Korn tiba-tiba datang untuk mengajaknya menjenguk Beauty. Pat malah nyinyir. Dia yakin kalau Beauty sebenarnya tidak sakit.

Tak enak harus berdebat di depan orang lain, Korn meminta kedua rekan Pat untuk keluar dulu lalu mengomeli Pat. Mereka kan sepupu, tidak bisakah Pat mengunjungi Beauty untuk menunjukkan kebaikan hatinya?

Pat tidak suka disebut-sebut sebagai saudaranya Beauty. Lagian, Beauty sendiri juga tidak pernah menganggapnya sebagai kakak sepupunya. Mereka sudah lama putus hubungan.

"Bagaimana mungkin itu terjadi, kalian berasal dari garis keturunan yang sama dan memiliki nama marga yang sama."

"Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang aku akan menggunakan nama marga ibu."

"Omong kosong!"

"Bukankah itu bagus? Mulai sekarang, hanya ayah dan Beauty yang punya nama marga sama. Silahkan kalian saling mejaga satu sama lain sesuka kalian! Jangan melibatkan aku!"

Pat langsung pergi dengan kesal. Piwara yang tadinya tampak cemas, diam-diam tersenyum licik seolah dia senang dengan pertengkaran Pat dan ayahnya.


Nee pamit pada Beauty, tapi ia janji akan kembali nanti malam untuk menemani Beauty. Beauty mengiyakannya saja, tapi begitu dia sendirian, dia langsung panik karena sekarang sudah jam 5 sore.

Saat Tee kembali, dia langsung bilang kalau dia mau pulang sekarang. Tapi Tee tidak mengizinkan, apalagi dokter tadi bilang kalau dia harus bermalam di sini agar mereka bisa meninjau kondisinya.

"Tapi aku sudah baikan sekarang. Tolong bicaralah pada dokter. Please! Please! Aku benar-benar tidak bisa tinggal di sini. Aku mau pulang. Kumohon."

Tee akhirnya mengalah. "Tapi kau tidak boleh melarikan diri. Mengerti?"

"Oke." Kata Beauty dengan senyum manis.

Bahkan untuk memastikan Beauty tidak melarikan diri, Tee memanggil seorang suster untuk menjaga Beauty. Sekali lagi dia memperingatkan Beauty untuk tidak kabur. Beauty mengiyakannya dengan senyum semanis madu, padahal dia panik bukan main.


Parahnya lagi, Tee lama banget perginya. Matahari mulai terbenam dan seketika itu pula Beauty mulai kesakitan. Panik karena suster masih setia menjaganya, Beauty dengan sengaja menumpahkan seteko air.

Begitu suster pergi untuk mengambil tongkat pel, Beauty buru-buru melepaskan infusnya, membuka jendela lalu masuk ke kamar mandi dan berubah menjadi burung tepat sebelum suster dan rekannya kembali.

 

Sementara para suster membersihkan lantai, mereka sama sekali tidak menyadari seekor burung yang keluar lewat jendela. Suster mengira Beauty sedang di kamar mandi, tapi malah cuma menemukan baju pasien tergeletak di sana. Pasien pasti melarikan diri.

Mereka hendak melapor ke sekuriti saat Tee kembali dan langsung bingung melihat mereka. Apa yang terjadi? 

Suster juga bingung. Tadi Beauty menumpahkan air dan dia pergi sebentar untuk mengambil tongkat pel. Tapi saat dia kembali, Beauty sudah melarikan diri entah kapan dan bagaimana.

 

Bingung dan cemas, Tee mencoba melihat ke balkon, tapi tentu saja dia tidak melihat siapa-siapa, tidak pula si burung kecil. Beauty meminta maaf pada Tee, tapi apa boleh buat, ini mendesak.

"Aku baik-baik saja, kok. Jangan khawatir. Kau pulang saja."


Jade pergi ke rumah Beauty, tapi Pon memberitahunya kalau Beauty sedang dirawat di rumah sakit sekarang.

Tee baru saja tiba di sana saat Jade keluar. Tee sontak kesal melihat dia. Teringat ucapan Beauty tentang 'teman yang bisa diandalkan', Tee jadi berpikir kalau Jade lah orang yang dimaksud Beauty.

 

Setelah terbang jauh, Beauty akhirnya tiba di kamarnya dengan napas ngos-ngosan. "Aku bahkan tak bisa menginap di RS saat aku sakit dan harus terbang pulang sendiri. Kapan aku akan jadi manusia lagi?!"

Ngomong-ngomong, berapa lama waktunya tersisa? Beauty langsung terbang ke kalender dan makin panik saat mendapati sekarang sudah tanggal 22.

"Hei, penyihir! Kenapa kau tidak menjadikanku burung saja selamanya!"

Dewi langsung ngambek. Sedang sakit tapi Beauty masih saja punya kekuatan untuk memanggilnya 'penyihir'. Beauty terus saja mewek sambil jejeritan gaje di atas kasurnya, menyuruh Dewi untuk membunuhnya saja sekalian.


Lalita cemas. Waktunya tidak banyak lagi, makanya Beauty jadi kehilangan keberaniannya. Mereka harus bagaimana untuk membantunya?

Dewi tetap santai. Masih ada waktu. Mungkin beauty akan menemukan cara untuk mematahkan kutukannya sebentar lagi. Tenang saja. Terlalu cemas tidak akan membantu apa-apa.

Yang perlu mereka lakukan sekarang hanyalah mendoakan kesembuhannya agar Beauty bisa kembali mendapatkan kekuatannya untuk mematahkan kutukannya.

Bersambung ke episode 15

0 komentar

Post a Comment

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^