Sinopsis Leh Nangfah Episode 13 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 13 - 1


Para karyawan heboh membicarakan kosmetik pemberian Beauty. Saat Beauty datang, mereka semua langsung jejer menyambutnya. Beauty langsung mengomentari penampilan mereka satu per satu.

Dia sedang mengomentari bau parfum salah satu penggosip saat dia melihat Pat cs datang. Melihat itu, Beauty dengan sengaja memberitahu mereka bahwa kita bisa mengetahui seseorang itu bagaimana melalui parfum yang dipakainya.

"Misalnya, hanya dengan mencium bau parfum seseorang, kalian bisa tahu kalau orang itu KUNO."

"Khun Pat, yang dia maksud itu kau, yah?" Seru Kratua keras-keras yang jelas saja membuat para pegawai meliriknya dengan sinis.

Beauty lalu mengumumkan aturan barunya. Mulai sekarang, siapapun yang kedapatan berbibir pucat, wajah berminyak, baunya busuk dan tidak pakai parfum, maka gajinya akan dipotong. Dan siapapun yang terlihat cantik sempurna, maka akan diberi bonus.


Para karyawan sontak bertepuk tangan heboh, bahkan Kratua pun ikutan jejeritan heboh. Kesal, Pat cepat-cepat menghentikan kehebohan mereka dan menyuruh mereka balik kerja atau gaji mereka akan dipotong.

"Kau baru saja merusak organisasi karyawan!" Kesal Pat

"Ini kan perusahaanku. Aku bisa melakukan apapun semauku."

 

Tidak terima, Pat cs langsung pergi melaporkan ucapan Beauty itu pada Tee. Kratua bahkan yang paling heboh nyerocos panjang lebar sampai Pat harus menghentikannya dan Tee langsung mengusir Kratua dan Piwara.


Kratua tidak mau pergi, tapi Piwara langsung mendorongnya dengan senyum aneh. (Hmm... Piwara ini lama-lama semakin mencurigakan. Dia misterius, tidak seperti Pat dan Kratua yang jahat secara terang-terangan)


Pat tidak mau membiarkan Beauty melakukan apapun yang dia suka, perusahaan ini bisa hancur kalau seperti itu. Tee santai mengingatkan kalau Beauty benar, perusahaan ini memang milik Beauty.

"Lalu kau tidak akan melakukan apapun? Tidak bisakah kita memberhentikannya dan menyuruhnya untuk tidak ikut campur dalam perusahaan lagi?"

"Tidak bisa, Pat. Dia tampaknya serius."

Pat tak percaya. Orang seperti Beauty cuma ingin menang dari orang lain. Lama-lama juga dia pasti akan bosan. Tee heran, kenapa juga Pat kesal?

"Karena aku tidak mau dia menghancurkan perusahaan kita! Reputasi Thanabavorn akan hancur! Lagipula, aku tidak tahan bekerja dengan orang semacam itu. Kalau dia di sini, aku akan pergi."


"Kenapa sampai sejauh itu? Kau juga bagian dari keluarga Patbavornpong."

"Tidak. Aku tidak mau punya nama marga yang sama dengan Beauty! Aku akan mengganti margaku. Dan kapanpun Beauty menjadi eksekutif, aku akan berhenti."

"Banyak hal mungkin akan berubah sebelum saat itu terjadi." Ujar Tee ambigu.

Pat tak mengerti apa maksudnya? Apa Tee punya rencana? Tee menyangkal, dia hanya berharap Beauty akan berubah. Pat yakin kalau itu tidak akan pernah terjadi. Seseorang seperti Beauty, tidak akan pernah berubah.


Di pabrik, Seenuan dengan sabar mengajari Beauty untuk menggambar pola-pola jahitan serapat mungkin agar mereka bisa menghemat lebih banyak kain. Beauty tak mengerti kenapa mereka harus menghemat-hemat kain?

"Jika kainnya tersisa banyak, kita bisa menggunakannya untuk sesuatu yang lain. Untuk dekorasi misalnya."

Beauty kagum mendengarnya. "Kami beruntung memilikimu di perusahaan ini. berhemat demi perusahaan kita seperti ini. Terima kasih, bibi."

Seenuan pun berterima kasih karena perusahaan ini sudah sangat baik padanya. Ia tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Tentu saja Seenuan bisa membayarnya dengan tetap bekerja di sini, jangan pernah pindah ke manapun.


Somcheng meyakinkan kalau dia dan ibunya takkan pergi ke mana-mana apapun yang terjadi. Bahkan saat temannya membujuknya untuk bekerja di pabrik barunya Korn, ibunya tidak mengizinkannya.

Beauty kaget. "Pabrik barunya Paman Korn? Di mana itu?"

"Di sekitar Jalan Bangna-Trad."

Melihat kecemasan Beauty, Seenuan berusaha menenangkannya dengan berkata kalau itu mungkin bukan pabriknya Korn dan langsung mengomeli Somcheng.

Tapi Somcheng bersikeras kalau itu pabriknya Korn. Bahkan saat dia pergi melihat pabrik itu, dia melihat Korn di sana. Temannya yang kerja di sana, juga sering melihat Korn di sana. Temannya pernah bilang kalau korn sedang mengecek design produksi atau semacamnya.


Tak tenang, Beauty langsung pergi ke kantornya Tee. Tapi Sekretarisnya Tee memberitahu kalau Tee sedang pergi menghadiri meeting Forum Fashion Thailand.

Kesempatan, Beauty langsung meminta Sekretaris untuk membawakannya dokumen tentang pabrik baru. Tapi Sekretarisnya Tee bahkan tak tahu menahu tentang adanya pabrik baru itu. Bingung, Beauty akhirnya hanya meminta Sekretaris untuk meneleponnya kalau Tee kembali nanti.

Setibanya di lobi, dia malah bertemu dengan Korn yang baru datang. Korn tampak benar-benar senang bertemu dengannya. Beauty menyapanya dengan sopan, tapi dia buru-buru menghindar dengan alasan mau kembali bekerja.

Tapi Korn mencegahnya dengan cepat. "Kenapa kau datang kemari? Apa kau datang mencariku?"

"Tidak. Aku hanya datang sebagai pemilik sah Thanabavorn. Dan aku akan segera bekerja di sini sebagai eksekutif seperti ayahku dulu."

"Aku lega mendengarnya. Orang tuamu pun pasti begitu."

"Begitukah?"

"Tentu saja. Orang tuamu bisa melihatnya. Training ini benar-benar membuatmu jadi dewasa. Aku yakin kalau suatu hari nanti, kau akan bisa menjadi sebaik ayahmu."

Beauty percaya dan yakin kalau dia bisa menjalankan perusahaan ayahnya ini dan mengembangkannya. Siapapun yang baik pada perusahaan, dia akan berusaha yang terbaik untuk mengkompensasi orang itu.

"Dan siapapun yang berpikir untuk berkhianat, dia tidak akan punya tempat untuk berdiri di Thanabavorn."

Itu jelas-jelas sindiran dan ancaman untuk Korn. Tapi anehnya, Korn malah bangga mendengar tekad kuat Beauty itu.


"Jika tak pernah ada masalah, Lallalit takkan pernah tegas." Komentar Dewi di surga.

"Tapi Kornthep adalah ikatan terakhir antara Lallalit dan ayahnya. Jika Kornthep tak ada di sana, Lallalit pasti akan merasa kesepian di dunia ini."

"Dosa yang dilakukan Lallalit telah membawanya sampai ke titik ini, dan kuharap dia akan terus memilih jalan yang benar."


Begitu kembali ke pabrik, Beauty langsung membawa Somcheng ke tempat sepi. Terlebih dulu dia meminta Somcheng untuk tidak memberitahu siapapun tentang apa yang mereka bicarakan hari ini, tidak pula terhadap ibunya.

"Baiklah. Tapi ada apa?"

"Katakan padaku tentang pabrik di Jalan Banga-Trad itu. Katakan semua yang kau ketahui."

Somcheng mengaku kalau dia tidak tahu banyak karena dia cuma pernah pergi ke sana satu kali. Dia cuma tahu letak persisnya pabrik itu. Kalau begitu, Beauty meminta Somcheng untuk memberitahukan rutenya.


Meeting Forum Fashion Thailand itu juga dihadiri oleh Jade dan sontak saja kedua pria itu bersitatap sengit saat pihak penyelenggara sibuk menjelaskan bahwa tujuan meeting ini adalah mengajak para pengusaha industri fashion untuk bekerja sama mengadakan sebuah acara fashion show.

Selesai meeting, Jade menyapa Tee. Sapaannya terdengar ramah, tapi sebenarnya dia sedang menyindir halus. Tapi Tee dengan mudahnya mengungguli sindiran Jade dengan balas menyindir reputasi perusahaan Jade. Kesal, Jade langsung menelepon Beauty dan minta izin untuk menjemputnya.


Tee mampir mengunjungi Orn di toko bunganya saat Orn sedang sibuk merangkai bunga. Orn langsung bahagia dan buru-buru mau mengambilkan kudapan untuk Tee. Tapi saking buru-burunya, dia jadi tak sengaja menyenggol vas sampai vasnya pecah dan mengenai jarinya Orn.

Tee sontak cemas. Dia sedang membantu mengobati jarinya Orn saat Mami datang dan langsung senang melihat mereka bersama. Mami lalu mengundang Tee untuk tinggal lebih lama dan minum teh.


Tee menerimanya. Orn senang dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan teh untuk mereka. Tapi saat melihat jam, Tee baru ingat kalau dia ada janji penting di perusahaan dan dia tidak bisa menundanya.

"Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Nong Orn. Saya permisi sekarang."

Saat Orn kembali tak lama kemudian, dia jelas kecewa dan sedih mendapati Tee sudah pergi lagi.


Tepat begitu Beauty selesai menggambar pola-pola jahitan di kain, bel pulang berbunyi. Beauty tak buang waktu untuk pulang sekarang juga dan berpesan pada Somcheng untuk bilang ke Tee kalau dia tidak akan pulang bersamanya hari ini.

Begitu Beauty keluar, Jade sudah ada di sana menunggunya. Tepat saat dia masuk ke mobilnya Jade, Tee baru datang dan langsung kesal melihat pemandangan itu. (Hmm, jadi janji penting yang dia maksud itu janji jemput Beauty, yah? Hehe)


Dalam perjalanan, Jade dengan sengaja menyinggung pertemuannya dengan Tee di acara meeting tadi. Tapi Beauty bahkan tak mendengarkannya dan sibuk sendiri celingukan entah mencari apa.

Tepat saat Jade tanya Beauty mau makan apa, Beauty mendadak menyuruhnya untuk pergi ke mall terdekat. Jade ingin mereka ke restoran yang bagus, tapi Beauty terburu-buru karena sudah sore dan bersikeras mau ke mall di depan itu. Cepetan! Sekarang!


Begitu Jade berhenti di parkiran, Beauty buru-buru berterima kasih atas tumpangannya dan menyuruh Jade langsung pulang saja dan tidak usah menunggunya. Beauty langsung lari masuk ke mall sampai Jade kebingungan dibuatnya.

Matahari mulai terbenam dan Beauty kesakitan. Panik, dia bergegas ke toilet terdekat. Jade melihatnya dan langsung geli, mengira Beauty terburu-buru cuma karena lagi kebelet.


Syukurlah dia berhasil masuk ke salah satu bilik tepat sebelum dia berubah jadi burung. Tapi sekarang dia bingung bagaimana caranya dia bisa keluar.

Melihat seorang wanita yang lagi sibuk dandan, Beauty dengan tak sabaran berusaha meminta wanita itu untuk keluar sekarang biar dia bisa ikutan keluar. Tapi wanita itu santai saja berdandan secantik mungkin dan mengecek giginya sampai Beauty gregetan dibuatnya.

Wanita itu akhirnya membuka pintu dan Beauty pun punya kesempatan untuk keluar. Yang tak disangkanya, Jade ternyata masih menunggunya di luar. Tapi dia tidak ada waktu untuk mempedulikan Jade sekarang dan langsung pergi.

 

Mengira Beauty belum keluar dari toilet, Jade terus berusaha menghubunginya tanpa hasil. Saat dia meminta salah satu wanita untuk mengecek temannya di toilet, dia malah tidak mendapati siapapun di sana. Jade jelas bingung dan kesal.


Beauty akhirnya tiba di jalan Bagna. Menurut keterangan Somcheng, letaknya 15 kilometer di jalan Bangna. Tapi sekarang dia bingung, 15 kilo yang dimaksud itu ke mana?

Frustasi, dia langsung jejeritan ke langit. "Bantu aku menemukannya!!!"

Lalita berusaha memohon agar Dewi membantu menuntun Beauty, apalagi waktunya sudah semakin sempit. Dewi awalnya ragu, tapi akhirnya ia menurunkan cahaya untuk menuntun Beauty sampai dia tiba di pabrik baru itu. Selesai mengantarkan Beauty, cahaya itu pun pergi.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam