Thursday, April 11, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 11 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 11 - 2

 

Lalita bertanya apakah Beauty akan memberikan cintanya pada salah satu dari pria itu nantinya? 

Mungkin iya, mungkin tidak. Dewi tidak bisa memberikan jawaban pasti, karena pikiran manusia sangatlah dalam.

Lalita cemas karena sampai sekarang, sama sekali tidak ada tanda-tanda Beauty akan menemukan seseorang yang dia cintai lebih daripada hidupnya sendiri.

"Itu tergantung takdir mereka."

"Aku memperhatikan kemasaman dalam wajah Teepob. Itu karena cinta, bukan?"

"Kedua pria itu selalu menjadi saingan dalam banyak kehidupan. Mereka biasanya tidak saling mempercayai. Entah mereka akan terlibat cinta atau tidak."


Beauty penasaran, apa sebenarnya yang Jade inginkan darinya? Jade berkata kalau dia cuma ingin sarapan bersama Beauty sekalian membicarakan bisnis.

Beauty jelas tak percaya. Kalau Jade cuma ingin mencari tahu rahasia perusahaan darinya, percuma saja, karena dia bahkan tidak tahu apa-apa.

"Baiklah. Tapi kalau kau ingin menang, aku bisa memberitahumu banyak hal."

Beauty langsung tertarik. "Kau akan memberitahuku segalanya?"

"Sebanyak yang kutahu."


Di restoran, Jade bisa menduga kalau Beauty sedang training jadi presiden. Dia tahu kalau inilah cara mendiang Ayahnya Beauty melatih pegawainya.

Beauty membenarkannya lalu mulai mencoba mencari tahu hubungan antara Jade dengan Korn, dan dengan sengaja menyinggung perusahaan barunya Korn.

Sesuai dugaannya, Jade tahu tentang perusahaan barunya Korn. Beauty kontan berusaha membujuknya untuk memberitahunya segala sesuatu tentang perusahaan baru Korn itu.

Tapi Jade mengklaim kalau ceritanya panjang. Jadi, bagaimana kalau mereka bertemu lagi di waktu senggang agar bisa bicara lebih lama? Beauty malas sebenarnya, tapi dia setuju.


Pat masih tidur saat Kratua mengetuk pintunya sambil jejeritan heboh. Terjadi sesuatu yang hebat. Coba lihat video ini, Pat pasti akan senang.

Ternyata video Beauty terpleset kemarin sudah viral di internet. Pat langsung melek saking senangnya. Tapi siapa yang mengunggahnya? Apa Kratua? 

Tidak. Dia bahkan tak sempat merekam apapun kemarin. Dia sudah berusaha mencari tahu pelakunya, tapi tidak berhasil.

"Rasanya sungguh memuaskan, ada seseorang yang membantuku jadi aku tidak perlu melakukannya sendiri."

Kalau Beauty melihat video ini, dia pasti akan malu setengah mati. Dia tidak akan berani melangkah keluar rumah dan tidak akan datang ke perusahaan. Pat mendadak punya ide lebih licik. Apa Kratua punya kontak reporter entertainment? Tentu saja, dia punya semuanya.


Tee juga melihat video itu dan menduga sebentar lagi pasti akan ada sekumpulan paparazzi yang mendatangi toko ini. Tapi dia ingin Beauty tetap melanjutkan trainingnya hari ini, jadi dia memerintahkan Manager untuk menyuruh satpam menjaga Beauty.


Saat Tee mencari Beauty, dia malah mendapati Beauty jalan sama Jade sambil senyam-senyum. Tapi tiba-tiba ada beberapa pengunjung yang dengan sengaja memotreti Beauty. 

Tee dan Jade sontak bertindak menghentikan mereka, Jade bahkan mengambil salah satu ponsel pelanggan dan menghapus semua foto-fotonya bersama Beauty.

Setelah mereka pergi, Beauty mengucap terima kasih hanya pada Jade sampai Tee cemburu dibuatnya. Dengan kesal dia menyela mereka dan menyuruh Beauty datang ke kantor manager, ada yang mau dia bicarakan. Kalau begitu, Jade pamit dan berjanji akan menjemput Beauty jam 5 sore nanti.


Tee memperlihatkan video itu pada Beauty yang kontan kesal dan malu melihatnya. Tee ingin dia berhenti training saja, tapi Beauty menolak dan bersikeras mau lanjut training sampai batas waktunya usai. Jika tidak, takutnya 'seseorang' akan mengejeknya.


Beauty pun melanjutkan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba saja muncul sekumpulan paparazzi yang menyerbunya, memotretinya dan mewawancarainya, mengira Beauty jadi sales gara-gara dia bangkrut.

Beauty sontak panik berusaha menyembunyikan dirinya. Beberapa penjaga berusaha menghalangi mereka mendekat, tapi tetap saja itu tidak mencegah para wartawan memotreti Beauty.

Tee juga berusaha menghalangi dan mengusir mereka, tapi tentu saja tak ada yang mau mendengarkannya dan para wartawan itu terus saja membombardir Beauty dengan segala macam pertanyaan.

Terpaksalah Tee harus menyeret Beauty pergi, sementara Pat dan Kratua ketawa-ketiwi dari belakang.


Hari sudah mulai sore saat mereka dalam perjalanan. Beauty bingung, Tee mau membawanya ke mana? Dia mau melanjutkan trainingnya.

"Training saja di pabrik."

"Hei. Kau yang membawaku keluar, aku tidak memintamu untuk melakukan ini. Dan lagi, aku tidak melakukan kesalahan apapun."

"Tapi kau membuat kekacauan."

"Bukan aku! Salahkan penyebabnya."


Sudah jam 3, Beauty mulai panik meminta Tee untuk menyetir lebih cepat dengan alasan kalau dia ada janji jam 5.

"Janji apa?" Tuntut Tee.

Beauty bingung jawab apa dan akhirnya mengklaim kalau dia ada janji dengan Jade. Bahkan untuk membuktikannya, dia pura-pura menelepon Jade dan bilang kalau dia mau mengubah tempat janjian mereka di rumahnya.


Orn sekeluarga pamit pulang pada Jade. Mereka mengajak Jade pulang bareng. Tapi tentu saja Jade menolak karena janjinya dengan Beauty tadi, tapi dia tidak tahu kalau Beauty sebenarnya sudah dalam perjalanan kembali ke Bangkok.

Tapi Orn masih ingin mampir ke tokonya Tee soalnya dia mau membelikan hadiah untuk orang tua Tee, sekalian mau mengundang Tee makan malam bersama mereka.

Tapi setibanya di sana, Manager malah memberitahu kalau Tee sudah balik ke Bangkok. Tadi ada masalah, jadi Tee pergi dengan membawa Beauty bersamanya.

Papa kecewa mendengar Tee pergi bahkan tanpa memberitahu mereka. Orn jauh lebih kecewa sampai dia tidak mood belanja apapun, dia mau langsung pulang saja.


Hari sudah semakin sore, tapi mereka malah terjebak macet. Beauty jadi semakin panik dan terus menuntut Tee untuk jalan lebih cepat, dia tidak mau telat dengan janjinya. Tee sebal mendengarnya, sabar dikitlah, sudah hampir sampai kok.

"Kalau begitu, aku turun di sini saja!"

Beauty hampir saja keluar, tapi Tee menariknya kembali dengan cepat, memakaikan kembali sabuk pengamannya dan menggenggam tangannya untuk mencegahnya pergi lagi.

"Waktunya kerja, kau terlambat. Tapi waktunya janjian dengan cowok, kau malah tepat waktu."

"Itu urusanku!"

"Duduk!"

Matahari semakin turun dan Beauty pun mulai kesakitan sampai Tee cemas melihatnya. Beauty panik menyuruhnya jalan lebih cepat.


Beauty bergegas masuk setibanya di rumah, Tapi Tee masih menghentikannya hanya untuk memberitahu Beauty kalau dia harus training di pabrik besok. Tak ada waktu, Beauty tak menjawabnya dan langsung lari ke ruang makan terdekat.


Begitu jadi burung, dia berniat mau keluar, tapi tidak bisa karena pintunya tertutup, bahkan semua jendela pun tertutup. Jadilah burung Beauty terkurung di sana dengan galau.


Saking terburu-burunya tadi, Beauty sampai lupa membawa barang-barangnya termasuk ponselnya. Tee dalam perjalanan pulang saat ponselnya Beauty berdering berulang kali dari Jade.

Tee jadi kesal, tapi dia sengaja tidak mengangkatnya. Jade akhirnya meninggalkan voicemail, memberitahu kalau tadi dia ke rumahnya Beauty (di Hua Hin) tapi tak ada siapa-siapa di sana. Dia berharap mereka akan bertemu kembali di Bangkok nanti.


Tak lama setelah Jade berhenti menelepon Beauty, kali ini Orn yang menelepon Tee. Tee beralasan ada urusan mendesak, makanya dia harus bergegas kembali ke Bangkok. Orn senang mendengarnya, dia kira Tee pergi karena marah padanya.

"Kenapa aku harus marah padamu?"

"Karena kau kembali ke Bangkok tanpa memberitahuku."

"Maaf. Aku benar-benar punya urusan yang harus diselesaikan."

"Ada masalah apa, P'Tee?"

"Akan kuberitahu nanti kalau kau sudah kembali ke Bangkok, bagaimana? Aku sedang menyetir sekarang."

"Baiklah. Sampai jumpa di Bangkok."


Beauty galau. Pertama kalinya dalam hidupnya dia terkurung di ruang makan. Di harus tidur di mana? Bagaimana bisa tidur kalau begini? Tapi kemudian dia melihat sebuah buku doa.

Beauty jadi teringat bagaimana dulu ibunya mengajarinya untuk berdoa dan bermeditasi agar pikiran kita tenang. Kalau pikiran kita tenang, maka kita akan mendapatkan kebaikan.

Beauty sontak berpikir kalau dia pasti bisa menaikkan warna emas kristalnya dengan berdoa dan bermeditasi. Dan dengan begitu, dia bisa mematahkan kutukannya dengan cepat.


Dia pun langsung menutup mata dan bermeditasi. Tarik napas-keluarkan! Tarik napas-keluarkan! Tarik napas-keluarkan! Tapi baru juga sebentar, dia sudah tidak sabaran melihat kristalnya dan tidak mendapati ada perubahan apapun.

Beauty bingung. Oh, mungkin dia harus melakukannya lebih lama. Beauty langsung mengucap tarik napas-keluarkan berulang kali sambil sesekali ngintip kristalnya, tapi tetap saja tidak ada perubahan.


Dewi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Beauty. Sayang sekali Beauty tidak sadar kalau meditasi yang dilakukannya salah karena meditasi seharusnya untuk menenangkan pikiran, sementara pikiran Beauty terus-menerus teralih.

"Jika dia benar-benar bisa melakukannya, apakah warna emasnya akan bertambah?" Tanya Lalita.

"Kita lihat saja apakah dia bisa melakukannya setidaknya selama semenit."

Beauty terus saja tarik napas-keluarkan berulang kali. Tapi pikirannya bukannya tambah tenang, malah ketiduran.


Terbangun keesokan harinya, Beauty mendapati dirinya ketiduran di lantai. Tapi kristalnya tetap tidak berubah. Beauty kesal, kenapa tidak ada perubahan padahal dia sudah bermeditasi semalam suntuk?


Tee datang tak lama kemudian untuk menjemputnya. Beauty buru-buru keluar dari ruang makan, dia sudah siap pergi kerja tapi dia tidak sadar kalau dia masih mengenakan seragamnya yang kemarin.

"Kenapa kau memakai seragam itu? Hari ini kau akan training di Bangkok, bukan di Hua Hin."

"Hahaha! Iya, training di Bangkok. Aku salah seragam!"

"Apa kau berjalan dalam tidur? Cepat ganti baju. Kuberi kau waktu 15 menit. Cepetan."

"Oke."

"Tunggu! Nih, ambil barang-barang yang lupa kau bawa kemarin."

Beauty pasti tidak bisa menahannya sampai dia meninggalkan semua ini di mobilnya. Kalau Beauty benar-benar kebelet, seharusnya dia bilang saja. Tee pasti akan menurunkannya di pom bensin terdekat. Wkwkwk!

"Iiih! Hentikan! Jorok!"

 

Oh, kemarin Jade menelepon terus berulang kali, tapi dia tidak mengangkatnya. Katanya mereka janjian, lalu kenapa Jade meneleponnya terus?

"Itu urusan pribadiku! Kau tidak terlibat!"

"Aku juga tidak mau, tapi ponselmu mengangguku saat aku menyetir. Mengerti? 15 menit!"

"Oke! Oke!"

Tee langsung sumringah, mungkin senang menyadari Beauty tidak bersama Jade semalam.

Bersambung ke episode 12

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^