Sunday, April 28, 2019

Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 8 - 5

Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 8 - 5

Images Credit: Channel 3


Mengalihkan perhatiannya kembali ke Ayah, Kade sekali lagi tanya-tanya tentang Constantine Phaulkon. Ayah memberitahu bahwa Phaulkon itu bule Yunani.

Kade tiba-tiba teringat ajaran dosennya tentang Phaulkon. Semasa mudanya, Phaulkon bekerja sebagai pelayan di kapal dagang yang berbisnis dengan Ayutthaya.

Phaulkon kemudian menyadari bahwa dia bisa mencari nafkah di Ayutthaya. Maka dia memutuskan untuk menetap di Ayutthaya, dia lalu mengakrabkan diri dengan para pejabat yang kemudian memperkenalkannya pada Khun Lek yang pada saat itu menjabat sebagai menteri.

Saat pertama kali Phaulkon bekerja pada Khun Lek, dia orang yang pintar dan jenaka. Dia mempelajari Bahasa Thai dengan cepat dan dengan cepat pula meningkatkan karirnya. Khun Lek lalu mengenalkan Phaulkon pada Raja Narai.

Flashback.


Khun Lek langsung suka pada Phaulkon saat pertama kalinya mereka bertemu. Sikapnya sopan mengikuti adat Ayutthaya dan Bahasa Thai-nya pun fasih.

Dia kemudian bekerja pada Khun Lek. Suatu hari saat dia bekerja memeriksa buku keuangan kerajaan, Khun Lek menanyai pendapat Phaulkon tentang masalah yang mereka alami saat itu, yaitu para pedagang India yang datang untuk menuntut hutang dari mereka.

Khun Lek heran, bagaimana bisa istana punya hutang yang begitu besar pada para pedagang India itu. Tapi menurut pendapat Phaulkon, setelah dia mempelajari buku keuangan itu secara menyeluruh, dia mendapati kasusnya tidak seperti itu. Mendengar itu, Khun Lek pun menyuruhnya untuk memeriksa kembali buku keuangan itu

Flashback end.


Dan begitulah bagaimana Phaulkon terus melakukan audit hingga dia menemukan fakta bahwa sebenarnya para pedagang India itulah yang ternyata punya hutang besar pada istana. Berkat itu, sejumlah uang yang cukup besar, akhirnya kembali ke istana.

Keberhasilannya membuat Raja Narai menyukai Phaulkon dan beliau kemudian mengangkat Phaulkon sebagai pejabat istana.

"Persis seperti yang tertulis dalam sejarah." Gumam Kade.

Por Date heran mendengar gumamannya. Kade mengacuhkannya untuk tanya lagi ke Ayah. Jika Raja sangat menyukai farang sebesar ini, para pejabat Thai pasti tidak senang?

"Tidak senang?"

"Err... (maksudnya) tidak suka, jao ka."

"Raja Narai menyukai siapapun yang pintar. Beliau suka yang cerdas dan jenaka, dan pria ini tahu betul tentang bisnis, pelayaran, permesinan, bahkan senjata."

Raja suka sekali mendengar cerita tentang raja-raja lain dari berbagai negara dan Phaulkon selalu menceritakannya pada Raja, walaupun entah apakah semua ceritanya benar atau tidak.

"Thun sangat menyukainya dan selalu membiarkannya melayaninya setiap saat. Dan sekarang ini, semua pejabat senior... tidak senang. Apa aku mengucapkannya dengan benar?"

Kade sontak tertawa mendengar Ayah mengikuti bahasanya. Bahkan Khun Ying pun ikut tertawa dan Por Date tampak semakin terpesona padanya.

 

Phaulkon dan Maria akhirnya tiba di rumah mewahnya Phaulkon. Para pelayan sontak sujud sembah begitu Phaulkon masuk rumah.

Saat Maria melangkah masuk, Phaulkon memperkenalkannya sebagai nyonya rumah ini, dan para pelayan pun sontak sujud sembah padanya. Tapi Maria menyadari beberapa wanita menatapnya dengan tajam. Hmm... mungkin mereka gundiknya Phaulkon.

Phaulkon memperkenalkan Maria dengan nama barunya - Thong Kip Ma, dan menyuruh mereka untuk memanggilnya sebagai 'madame'.

Mulai sekarang, Maria memiliki otoritas paling tinggi di rumah ini dan para pelayan harus mendengarkan perintahnya. Dia menegaskan perintahnya ini terutama pada para wanita yang melempar tatapan tajam pada Maria.


Maria ragu dengan perintahnya itu dan berusaha protes, tapi Phaulkon menyelanya dengan cepat dan menolak protes apapun. Dia lalu memperkenalkan Maria pada teman-teman farangnya yang kedua-duanya bekerja di perusahaan dagang Hindia Timur Britania.

"Mereka ini adalah partener bisnisku." Aku Phaulkon.

Maria penasaran dan aneh dengan ucapannya. Memangnya Phaulkon berbisnis apa? Bukankah Phaulkon bekerja pada Perancis, kenapa malah berbisnis dengan Inggris?

Semua pertanyaan Maria itu sontak membuat ketiga pria di sana jadi canggung. Yang paling mencurigakan, Phaulkon bahkan langsung menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkan Maria ke kamarnya dan membubarkan semua pelayan lainnya.


Begitu Maria dan para pelayan pergi, Richard memperingatkan Phaulkon untuk berhati-hati saat berucap di hadapan istrinya itu, istrinya Phaulkon itu pintar. Dia tidak tahu apa-apa, kan? Dia pasti curiga.

Tidak. Phaulkon meyakinkan mereka kalau Maria pasti tidak akan curiga. Lagipula hari ini dia akan mengalihkan pikiran Maria ke hal lain yang lebih menarik.


Malam harinya, Maria tampak begitu tegang saat seorang pelayan membantu mendadaninya untuk persiapan malam pertamanya. Phaulkon langsung mengusir para pelayan sebelum kemudian memeluk istri barunya.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Phaulkon.

Maria penasaran dengan beberapa wanita yang menatapnya dengan tatapan benci, siapa mereka? Alih-alih menjawabnya, Phaulkon malah berjanji akan mengusir siapapun yang berani menatap Maria dengan begitu.

"Aku tidak bermaksud begitu. Aku bertanya agar aku tahu bagaimana harus menyikapi mereka."

"Kecurigaan apa yang kau miliki terhadap mereka?"

"Apa yang harus kucurigai?"


"Aku ini pria. Bunga apapun yang tumbuh liar di jalan, aku akan memetiknya walaupun itu tidak cantik dan wangi. Tapi sekarang, aku memiliki bunga yang cantik dan wangi dan ingin kutempatkan di posisi tertinggi di rumahku. Tertinggi di antara yang lain."

Maria hampir saja terharu mendengarnya, tapi kemudian Phaulkon dengan santainya berkata. "Bunga-bunga yang lain bisa kubuang setiap saat."

Phaulkon cepat-cepat mengakhiri percakapan ini dan mengalihkan topik ke tujuan utama mereka malam ini lalu mulai mencumbui Maria.


Kade sedang menulis di buku jurnalnya, sementara kedua pelayannya sibuk menata baju-bajunya. Tapi kemudian dia menyuruh mereka berdua untuk pergi makan malam saja dulu, biar dia sendiri yang memasukkan baju-baju itu ke peti bajunya

Begitu mereka pergi, Kade mulai menghitung perkiraan tahun di tempatnya berada saat ini... Tahun yang tiba-tiba membuatnya teringat akan sejarah Khun Lek.

Flashback.


Pada kelas hari itu, Pak Dosen mengajarkan tentang sejarah Khun Lek saat dia dituduh melakukan korupsi. Khun Lek menolak mengakui kejahatan yang dituduhkan padanya. Raja Narai jadi murka karenanya dan memerintahkan Khun Lek untuk dicambuk.

Dia dihukum dengan sangat kejam. Kedua tangannya diikat dan tiap-tiap cambukan di punggungnya, merobek kulitnya. Entah berapa kali ia dicambuk. Tapi yang pasti, ia benar-benar menderita dan dipermalukan.

Apalagi ia adalah putra dari pengasuhnya Raja, ia dan Raja berteman sejak kecil. Ia juga prajurit yang berperang demi Raja Narai sekaligus satu dari empat penasihat raja.

Dan selama Pak Dosen menjelaskan semua itu, Reungrit malah asyik molor sendiri. Dan saat Pak Dosen membangunkannya dan menanyainya, dengen pedenya dia asal jawab padahal jawabannya salah besar.

Flashback end.

 

Teringat hal itu, Kade penasaran bagaimana ceritanya Khun Lek nantinya akan dituduh melakukan korupsi. Dia lalu menulis hal itu di buku jurnalnya dan menyadari kalau Khun Lek akan mendapat hukumannya tahun ini.

Tapi saat teringat keramahan Khun Lek padanya, Kade benar-benar tak yakin dengan tuduhan korupsi yang dilakukan Khun Lek itu. Ini kan sejarah, siapa yang tahu mana yang benar.

Dalam flashback, Kade ingat kalau Pak Dosen pernah berkata bahwa ada bukti yang menyebutkan bahwa Chao Phraya Wichayen terlibat sebagai penyebab dicambuknya Khun Lek sampai mati.


Keesokan harinya, Kade terburu-buru mencari Ayah untuk tanya-tanya tentang Phaulkon lagi. Tapi belum sempat mengucap apapun, tiba-tiba saja Prik dan Khun Ying terburu-buru lari keluar rumah, sepertinya ada masalah penting.

Seketika itu pula Kade langsung melupakan Phaulkon saking keponya ingin tahu apa yang terjadi di luar dan reaksinya itu tidak luput dari perhatian Por Date.

"Mae Karakade. Kalau kau tidak mengikuti mereka, aku akan sangat terkejut."

Bersambung ke episode 9

2 komentar: