Friday, March 22, 2019

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 6 - 2

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 6 - 2


Mereka menemukan Direktur He di gudang. Dia berkata kalau dia tahu jalan keluar dari sini. Di bagian belakang kapal ada tangga darurat di mana mereka bisa melompat.

Biarpun ledakan telah merusak sebagian besar tempat di kapal ini, tapi tangga itu letaknya dekat geladak. Biarpun agak sedikit rusak, mereka tetap bisa menggunakan tangga itu.


Masinis cemas menyadari di depan adalah stasiun Chen Jia Bu. Jika mereka terus melaju dengan kecepatan ini, mereka mungkin akan menabrak kereta lain dalam waktu 5 menit.

"Lao Dao, cepat hubungi Xiao Zhuan. Siapa tahu dia bisa menghentikan kereta ini."

Lao Dao pun langsung menghubungi Xiao Zhuan dan mengabarkan masalah ini. Xiao Zhuan pun segera memerintahkan yang lain untuk menghubungi pihak stasiun agar mereka mengeluarkan orang-orang dari stasiun dan memindahkan kereta yang ada di stasiun.

Para petugas pun segera dikerahkan untuk mengeluarkan orang-orang yang sedang menunggu di stasiun. Seorang polisi melapor kalau mereka tidak bisa memindahkan kereta itu karena kereta itu dikendalikan hacker. Semua orang tegang menunggu tabrakan yang akan terjadi.


Tapi untunglah seorang petugas sigap menggerakkan wesel untuk mengubah rute rel sehingga kereta itu tidak bertabrakan dan terus melaju ke arah lain. Lega, Xiao Zhuan pun mencoba kembali menyerang R.


R mendapat notifikasi serangan Xiao Zhuan. R pun cepat-cepat melakukan sesuatu untuk melawan balik. Si kucing virtual dengan gigih mengejar si anjing virtual. Tapi anjing itu mendadak membela diri jadi 3 yang lari ke 3 arah yang berbeda.

Xiao Zhuan sontak menggebrak meja dengan penuh amarah. "Brengs*k! Akan kuhancurkan firewall-mu dan mencari tahu siapa dirimu!"


Han Chen dan Jin Xi memimpin jalan tanpa menyadari kalau mereka sebenarnya sedang diawasi R. Tapi di belakang, Direktur He malah membisiki yang lain untuk menghabisi kedua polisi itu.

L pura-pura keberatan, mereka kan polisi. Direktur He tak peduli, apa dia tidak ingat apa yang dikatakan si penculik tadi?

Flashback.


A memberitahu mereka kalau dia sebenarnya tidak peduli pada mereka karena target utamanya adalah para polisi. "Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya ditikam oleh orang yang sudah mereka selamatkan."

Dia sudah memperlihatkan bukti-bukti kejahatan mereka pada para polisi itu. Jadi walaupun bukan yang dia yang akan membunuh mereka, tapi para polisi itu tidak akan melepaskan mereka. Semua usaha mereka selama bertahun-tahun ini akan sia-sia jika mereka masuk penjara. Semua orang jelas cemas tak ingin hal itu terjadi.

Flashback end.


Manager juga setuju dengan Direktur He. Mereka bisa bertahan hanya jika mereka membunuh para polisi itu, dan karena itulah mereka meminta pengertian L untuk mendukung mereka.

Mereka terus melanjutkan pencarian, tapi malah mendapati Xiao Ding sekarat dengan perut bersimbah darah. Ternyata setelah Si Bai pergi, Tuan Zhang malah menusuk Xiao Ding tanpa ampun.

"Zhang Fucai mencuri pistolku. Cepat selamatkan Dr Xu," ucap Xiao Ding sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Han Chen tiba-tiba melihat Direktur He diam-diam mengeluarkan pisau. Han Chen dan Jin Xi sontak menodongkan pistol ke arah mereka. Panik, Direktur He cepat-cepat menarik si manager melarikan diri dari sana.

Tapi saat L hendak menyusul, Han Chen tiba-tiba menyapanya. "L! Apa luka tembak di tanganmu sudah sembuh?"

L langsung pasang senyum manis, sudah lumayan membaik. Han Chen jeli juga, dia sudah berusaha kelihatan tak berdaya tapi tetap ketahuan. Bagaimana Han Chen bisa tahu?

"Kau terobsesi dengan kebersihan. Begitu banyak hal yang terjadi, tapi sapu tanganmu masih sangat bersih dan jam tanganmu tak tergores sedikitpun. Kau pakai sarung tangan untuk menutupi luka tembakmu, bukan?"

"Betul!" L melepaskan wig-nya dan secara resmi memperkenalkan dirinya. "Aku adalah L."


Dia menepuk tembok dan seketika itu pula bom meledak. Jembatan itu kontan roboh dan membuat Jin Xi terjatuh bergulingan hingga dia pingsan. Han Chen mau menyelamatkannya, tapi L menghalanginya dan langsung menghajarnya. R dan A geli menikmati tontonan itu. R lalu keluar untuk mengambil Jin Xi.


Xiao Zhuan dapat kabar buruk lainnya. Kereta itu tengah menuju area bisnis Bing Hai. Jika kereta itu tidak berhenti, maka kereta itu akan tabrakan dengan area ramai itu. Tapi sebelum area Bing Hai, ada persimpangan rel.

"Cepat hubungi perusahaan subway untuk mengubah rute kereta!" Perintah Xiao Zhuan.

"Tapi masalahnya, rute lainnya adalah rute jalur 11 yang belum selesai dibangun. Jadi tidak ada teknisi di sana dan sekarang sudah terlalu terlambat untuk mengirim orang ke sana."

"Jalur 11 itu ke arah mana?"

"Ke area utara. Tapi jembatan yang menghubungkannya ke kota masih dalam proses pembangunan."

"Berarti itu... jembatan putus?"

"Benar."


Lao Dao bertekad untuk tidak menyerah. Pokoknya mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kereta ini. Tapi kemudian Xiao Zhuan memberitahu mereka bahwa walaupun mereka berhasil menghindari tabrakan dengan 3 kereta lainnya, tapi kereta yang mereka tumpangi itu akan menabrak area Bing Hai.

Mendengar itu, Cold Face langsung menyuruh Lao Dao untuk mengumpulkan para penumpang di gerbong paling belakang. "Dan setelah selesai, kau tidak perlu kembali."

Lao Dao tercengang mendengar nada bicara Cold Face yang sepertinya sudah siap mengorbankan dirinya. Dia cepat-cepat  keluar dan menyuruh para penumpang berkumpul di gerbong belakang.


Han Chen dan L terus bertarung dengan sengitnya dan R memanfaatkan saat itu untuk menculik Jin Xi. Han Chen sontak panik, tapi tak ada yang bisa dilakukannya karena L terus menyerang.

Si Bai bersiaga dengan senjatanya saat tiba-tiba dia melihat R membawa Jin Xi ke suatu tempat. Si Bai pun buru-buru mengejar mereka.


Selesai mengumpulkan semua orang di gerbong belakang, Lao Dao langsung kembali ke gerbong depan tanpa mempedulikan perintah Cold face tadi.

Cold Face sontak marah melihat Lao Dao tidak mendengarkan perintahnya. "Siapa yang menyuruhmu kembali? Apa aku menyuruhmu kembali?"

Lao Dao tak peduli, malah menyuruh masinis berlindung di gerbong belakang juga. Lao Dao meyakinkan Cold Face untuk tidak cemas, dia sudah mengurus para penumpang ke gerbong belakang.

"Kau mau jadi pahlawan? Aku juga mau."


Cold Face tersenyum haru mendengarnya. Xiao Zhuan menghubungi mereka untuk memberitahu bahwa ada persimpangan sebelum pemberhentian di Bing Hai. Mereka akan tiba di sana 10 menit lagi.

"Sebelum saat itu tiba, pikirkanlah sesuatu untuk mengubah keretanya menuju ke arah lain dan menjauhi pusat kota dan pergilah ke area utara dekat danau. Tapi jembatan di sana belum selesai di bangun, kalian akan berakhir di danau."


Di jembatan, Wen Long yang sedari tadi mondar-mandir cemas, akhirnya mendengar laporan dari tim gegana yang berhasil menjinakkan semua bom yang terpasang di jembatan.

Sayangnya, kelegaannya hanya berlangsung singkat saat Xiao Zhuan memberitahu kalau mereka masih belum bisa mengontrol kereta yang saat ini sedang menuju ke area pusat bisnis.


Lao Dao dan Cold Face tersenyum miris menanti nasib mereka di depan. "Cold Face, kita sudah hampir sampai. Apa kau sudah siap?"

"Hmm!"

"Kita sudah seperti ini. Bisa tidak mau jangan berekspresi seserius itu? Berhentilah berakting bak kesatria. Bisakah kau mengatakan sesuatu?"

Karena mereka adalah saudara yang mengalami hidup dan mati bersama-sama, Lao Dao memutuskan untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya.

Walaupun dia sangat cerewet dan suka mengoceh, tapi saat dia masih kecil, sebenarya dia anak yang gagap. Dia selalu tergagap setiap kali dia bicara. Sambil menunjukkan tusuk gigi yang biasanya selalu dia gigiti, dia mengaku kalau ini sebenarnya adalah senjatanya.

Waktu dia kecil, setiap kali dia tergagap, anak-anak yang lain pasti akan mengganggunya. Sampai saat seorang polisi lewat dan menyelamatkannya dari para pembulinya.

Polisi itulah yang memberinya tusuk gigi dan menyuruhnya untuk menyodok lidahnya dengan tusuk gigi setiap kali dia tergagap agar dia tidak tergagap lagi. Cara itu benar-benar berhasil dan begitulah Lao Dao mengatasi gagapnya.

"Hanya kau seorang yang tahu. Kuharap kau akan merahasiakannya untukku."


Berusaha menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Cold Face mengaku kalau sebenarnya dia enggan mati. Mendengar itu, Lao Dao langsung meminta Cold Face untuk mengeluarkan ponselnya.

Dia lalu memencet sebuah nomor dan menghubungkan Cold Face dengan pacarnya. Suster Xia langsung menggerutu karena akhirnya pacarnya itu punya waktu untuk meneleponya. Dia mengaku kalau dia membelikan baju baru untuk Cold Face, pasti cocok deh.

"Pakailah di kencan kita berikutnya. Aku jarang melihatmu pakai baju putih. Tapi kurasa kau akan sangat tampan memakai itu."

Berusaha menahan tangisnya, Cold Face dengan dinginnya berkata. "Aku bukan orang baik. Aku tidak bisa menjagamu. Kau berikan saja baju itu ke orang lain," dan Cold Face pun langsung menutup teleponnya.


Lao Dao pun menelepon orang tuanya. Kedua orang tua Lao Dao terdengar begitu antusias mendengar suara putra mereka yang jarang mereka temui itu hingga membuat Lao Dao hampir menangis mendengarnya.

Berusaha menahan tangisnya, Lao Dao memprotes kecerewetan ayah dan berjanji akan datang jika dia ada waktu nanti. "Ayah, aku bangga menjadi putramu. Kuharap aku juga anak yang kalian banggakan."

"Tentu saja ayah bangga padamu, anak bodoh. Pulanglah secepatnya."

"Iya, yah. Aku tutup dulu."


Mereka kemudian melihat lampu merah pertanda adanya wesel. Cold Face langsung membuka kereta dan Lao Dao memeganginya sementara Cold Face mengarahkan senjatanya ke wesel. Cold Face menembak tepat sasaran dan jalur rel pun berubah arah.


Para polisi pun senang melihat jalur kereta sudah berubah arah. Lega, Xiao Zhuan pun mencoba kembali menyerang R. Si kucing sekarang berubah jadi kestaria dan si anjing berubah jadi darth vader yang saling serang dengan sengit di dunia binari.

Awalnya di darth vader lebih unggul, tapi Xiao Zhuan dengan cepat bangkit dan menendang si darth vader jauh-jauh. Akhirnya dia menang dan bergerak cepat untuk menguasai kereta.


Kereta itu perlahan mulai berhenti dan membuat para penumpangnya kelimpungan ke depan. Tapi tentu saja akan butuh waktu untuk membuat kereta itu benar-benar berhenti dan entah apakah bisa berhenti tepat waktu.

Lao Dao tanya apakah Cold Face masih ingat dengan puisi yang ditulis Xiao Zhuan saat mereka pertama kali bergabung ke tim Black Shield? Tentu saja. Maka mereka pun merapalkan kembali puisi itu bersama-sama.

Kita adalah Black Shield
Kasus-kasus yang kita tangani adalah yang paling menakutkan
Kita mengejar binatang paling buas
Kita adalah perisai yang paling kuat, paling aman di batas kegelapan
Dengan kemauan untuk selalu berkorban demi orang lain
Tak pernah mengecewakan mereka yang kita lindungi
Biarkan kami memilih mati
Agar kami bisa mati
Kami mungkin mati, tapi jiwa kami tetap hidup.

Bersambung ke episode 7

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^