Saturday, March 30, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 8 - 1

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 8 - 1


Saat hendak menjemput Beauty pulang kerja, Tee bertemu dengan Seenuan yag memberitahunya kalau Beauty sudah pulang duluan begitu bel berbunyi.

Tee meyakinkannya untuk tidak cemas terkait insiden tanda tangan Seenuan dalam laporan itu. Perusahaan tahu kalau Seenuan adalah seorang pekerja keras. 

Memang akan ada kompensasi karena itulah aturan perusahaan, tapi Tee berjanji akan membantunya. Hanya saja, dia meminta Seenuan untuk merahasiakannya dari siapapun.


Sementara itu di gudang, Beauty berusaha menahan jerit kesakitannya saat matahari mulai terbenam dan dirinya berubah menjadi burung. Dia berpikir sebenarnya ada bagusnya juga jadi burung. Dengan begini, dia bisa tahu pemikiran orang lain.

Dia lalu terbang keluar dan melihat Kratua yang sedang mengendap-endap dan tampak sangat mencurigakan. Kratua galau karena masih banyak satpam yang berjaga di luar. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui Pat dulu.

Penasaran, Beauty memutuskan terbang membuntutinya. Sementara Piwara sibuk sendiri memasukkan barang-barang ke dalam kotak, Pat cuma mondar-mandir dengan cemas.

Beauty menyelinap masuk saat Kratua membuka pintu dan mendengar percakapan mereka yang jelas-jelas mencurigakan. 

Kratua melapor kalau dia tidak bisa apa-apa karena banyaknya penjaga... Tapi ujung-ujungnya malah curhat tentang kegagahan para satpam yang membuat hatinya bergetar. Wkwkwk! Dan jelas saja curhatan gajenya langsung mendapat tatapan tajam dari para wanita.


Kratua menyarankan agar mereka menunggu pergantian shift saja. Pada saat itu, penjagaan akan sedikit berkurang. Beauty jelas semakin curiga, apa sebenarnya rencana mereka.

Tapi Pat ingin menjalankan rencana pertama saja. Dia akan mengalihkan perhatian satpam dengan menyuruh mereka mengangkati kotak-kotak ini agar Kratua bisa punya kesempatan untuk masuk ke ruang kontrol dan menghapus rekaman video itu.

"Rekaman video?" Heran Beauty.

Pat menyuruh Piwara untuk mengawasi para satpam itu nanti lalu mengajak Kratua pergi bersamanya.


Tee menelepon rumahnya Beauty, tapi pelayan mengaku kalau Beauty belum pulang. Tee langsung kesal mengira Beauty sempat-sempatnya pesta di saat seperti ini.

Tapi kemudian Sekretarisnya datang membawakan dokumen tentang Beauty yang belum sempat di-scan. Berkat dokumen itu, Tee menduga kalau Beauty masih berada di perusahaan.

Saat dia mengalihkan pandangannya keluar jendela, tiba-tiba pandangannya tertuju ke kamera CCTV. Seketika itu pula terlintas sesuatu dalam benak Tee dan dia langsung keluar.


Pat menyuruh satu-satunya satpam yang berjaga di ruang kontrol untuk membawakan kotak-kotaknya. Si satpam jelas galau karena dia sendirian dan tak ada yang menggantikannya kalau dia pergi. 

Tapi Pat tak peduli dan terus memaksa. Si Satpam pun tak punya pilihan selain pergi menurutinya. Begitu Satpam pergi, Kratua pun masuk dengan diikuti Beauty.

Pat menemukan tape rekaman CCTV pada hari kejadian itu dan Kratua langsung memutarnya dan mencari rekaman diri mereka. Begitu menemukannya, Pat langsung menyuruh Kratua menghapusnya.

Beauty jelas kesal. "Sudah kuduga. Kalian yang terburuk!"


Belum sempat Kratua melakukan apapun, Burung Beauty langsung menyerangnya dengan ganas. Tee datang tepat di tengah pertarungan sengit itu. Heran mendengar suara ribut di dalam, Tee langsung menuntut mereka untuk membuka pintu.

Pat jelas panik dan menyuruh Kratua untuk menghapusnya sekarang juga. Beauty sontak terbang dan mematuki jari Kratua dengan ganas sampai Kratua melompat ketakutan dan heboh sendiri berusaha mengusir burung itu tanpa hasil.

Tee semakin marah menuntut mereka membuka pintu. Panik, Pat berusaha menghapus video itu sendiri dan dia berhasil dengan mudah karena Beauty terlalu sibuk menyerang Kratua.


Baru setelah itu, Pat membukakan pintu untuk Tee dan mengklaim kalau mereka heboh gara-gara burung itu. Tee jelas mengenalinya, "Beauty?"

Pat bingung, di mana ada Beauty? Beauty langsung turun ke keyboard, berusaha menunjukkan bukti itu pada Tee, tapi malah mendapati video itu sudah terhapus.

"Mereka menjebakku! Jahat sekali!"


Kesal, Beauty sontak menyerang Kratua lagi. Saking paniknya, Kratua langsung mengibas-ngibaskan tasnya dan membuat isinya berhamburan ke lantai... termasuk sintukan tinta yang dia gunakan untuk menjebak Beauty.

Beauty melihatnya, tapi Tee tak sempat melihatnya karena Kratua buru-buru memunguti semua barangnya.

"Kalian memilih cari masalah denganku, kan? Baik. Lihat saja nanti. Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja."


Semakin curiga pada kedua orang itu, Tee mulai menginterogasi mereka. Kenapa mereka berdua datang ruangan ini? Pat mengklaim kalau dia datang untuk menyuruh satpam untuk membantunya mengangkat barang.

"Lalu di mana satpamnya? Kenapa dia meninggalkan ruangan ini begitu saja?"

Mereka mengklaim tak tahu, pokoknya waktu dia masuk sudah ada burung gila itu. Lebih baik mereka menangkapnya, kayaknya burung itu kena virus gila.

"Kau yang gila! Selalu menjebak orang orang!" Kesal Beauty.

Tee jelas membela burungnya. Ini cuma burung lovebird normal dan dia sendiri yang akan mengurusnya. Kalau begitu Pat mau pergi sekarang, sekalian periksa ke dokter, siapa tahu dia kena infeksi burung.

 

Tak mau membiarkan mereka pergi begitu saja, Beauty langsung menyerang mereka lagi sambil berusaha meminta Tee untuk mengambil tasnya Kratua dan mendapatkan buktinya.

Kratua dan Pat jejeritan super heboh sampai Tee harus membentak mereka untuk diam dan mengambil burung itu dari punggung Kratua. Pat berusaha melarikan diri lagi.


Tak mau membiarkan mereka pergi begitu saja, Beauty langsung terbang lagi dan buang hajat tepat di muka kedua orang itu. Wkwkwk! Jadilah kedua orang itu menjerit heboh lagi.

Pat panik minta tisu, Kratua pun langsung menggeledah tasnya untuk mencari tisu... dan dalam prosesnya, tak sengaja membuat suntikan tinta itu terjatuh. 

Untunglah kali ini Tee melihat suntikan itu dan mengambilnya sambil menatap si burung dengan keheranan. Pat dan Kratua tak bisa berkutik lagi. Beauty bangga pada dirinya sendiri.


Biarpun satu rekaman terhapus, tapi Tee mendapatkan rekaman lain yang jelas-jelas memperlihatkan mereka berdua bekerja sama menyemprotkan tinta itu ke kain.

Tee jelas kecewa pada mereka. Tak pernah menyangka kalau mereka akan membuli Beauty sampai seperti ini. Pat menyangkal membuli Beauty dan mengklaim kalau dia cuma ingin mengetes apakah si pegawai baru itu serius dengan pekerjaannya.

Sayangnya, Tee sama sekali tak mempercayainya dan menyuruh mereka berdua untuk memilih sendiri hukuman bagi mereka. Mereka mau diskors atau mengundurkan diri? Kratua heboh berusaha membela diri dan mengklaim kalau itu video editan.


Kesal, Tee langsung menyuruhnya untuk menunggu di luar. Pat tidak terima dipecat setelah semua hal yang dia lakukan untuk perusahaan ini.

"Kalau kau masih ingin bekerja di sini, maka hentikan semua ini. Minta maaf pada Beauty besok."

"Tidak mau."

"Kalau begitu, aku akan mengikuti aturan."

"Semua ini karenamu, burung bego!" Kesal Pat lalu pergi.

"Kau yang bego. Dasar kuno."


Tee membawa Beauty keluar dengan keheranan. Gimana nggak heran, burung ini pintar banget. Kenapa dia bisa sepintar ini? Dia makan apa?

"Bukan cuma pintar, tapi juga cantik!" Narsis Beauty.

"Kurasa kau bukan burung normal."

"Betul. Aku burung istimewa."

Penasaran, Tee mendekatkan wajahnya untuk meneliti burung itu. "Kau burung pencuri, yah? Kurasa kau punya control microchip."

"Kau gila, yah?"

Sini kulihat. Tee langsung membuka sayapnya Beauty untuk mencari chip-nya yang jelas saja membuat burung itu menggeliat protes dan mematuki jarinya. "Lepasin! Lepasin! Dasar sinting! Dasar barbar! Tinggalkan aku sendiri!"


Tepat saat itu juga, Tee ditelepon Orn. Dia baru ingat kalau malam ini dia ada janji dengan Orn. Tapi pada Orn, dia mengklaim kalau dia tidak lupa dan sekarang sedang menuju ke sana. Dia cuma terkendala sedikit masalah di kantor barusan dan sekarang sudah selesai.

"Kau mau makan malam dengan gadis sok imut itu? Aku tidak mau ikut denganmu. Lebih baik aku pergi!"


Papanya Orn kesal mendengar alasan Tee. Pokoknya ini terakhir kalinya. Kalau dia tidak datang lagi, maka Orn harus berhenti janjian dengannya. Orn jelas tidak mau dan meyakinkan Papa kalau Tee itu pria yang baik. Hanya saja dia super sibuk.

"Tapi tetap saja seharusnya dia bersikap hormat dan bukannya terlambat apalagi sampai tidak datang. Ini tidak benar."

"Tapi dia sangat sibuk. Bukankah Papa sendiri yang bilang kalau Tee itu rajin dan tekun?"

"Tekun memang bagus, tapi putriku harus diutamakan. Dia tidak boleh membuat putriku sedih."

"Aku tidak akan sedih. Aku memahaminya. Sungguh."

Papa benar-benar frustasi mendengarnya. Apalagi Orn memaksanya berjanji untuk tidak mengomeli Tee saat dia datang nanti. Orn lalu masuk kembali ke kamarnya untuk memperbaiki dandanannya sebelum Tee datang.


Begitu Orn pergi, Maminya Orn langsung mengeluhkan Tee dan membanding-bandingkannya dengan Jade. Mami kurang suka dengan Tee yang selalu lambat, Jade kelihatan lebih tulus pada Orn.

Mami lebih setuju kalau Jade yang memacari putri mereka. Tapi menurut Papa, Thanabavorn lebih cocok untuk putri mereka ketimbang Jade Garment.

"Tapi bagaimana kalau Khun Tee terus begini? Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus membiarkannya tahu kalau putri kita bukan mainan. Dia harus bisa memberikan segalanya untuknya (Orn)."

 

Beauty kecapekan setelah terbang sejauh itu dan memanggil Dewi dengan kesal. Dia menegaskan bahwa biarpun dia berhasil menangkap pelakunya dengan menjadi burung, tapi bukan berarti dia suka menjadi burung.

"Jadi, hapus kutukan ini sekarang! Hapus! Kau dengar tidak?!"

Tiba-tiba perutnya keruyukan. Terpaksa dia harus memakan makanan burung dengan kesal. "Makanan yang sama terus setiap hari. Aku bosan! Kau dengar tidak? Aku bosan! Bosan! Bosan! Bosan!"

Tentu saja Dewi mendengar gerutuannya, tapi ia cuma tersenyum. Di tengah kekesalannya, Beauty melihat jimat kristalnya berpendar. Begitu melihat warna emasnya semakin bertambah, Beauty kontan jejeritan heboh saking senangnya, mengira warna emasnya itu terjadi berkat kesuksesannnya menangkap Pat.


"Tidak, nak. Itu karena kebaikan yang kau lakukan pada kolegamu." Ujar Lalita.

Tapi Dewi memperingatkan Lalita untuk tidak menggunakan telepati untuk mengilhami Beauty. Dia harus belajar sendiri, itulah perjanjian di antara mereka berdua.

Bersambung ke part 2

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^