Sinopsis The Eternal Love Episode 22 - 2

Sinopsis The Eternal Love Episode 22 - 2


Para tetua Suku Mo tak senang dengan keputusan Lian Cheng untuk membiarkan Xiao Tan tinggal di sisinya. Itu keputusan yang tidak pantas. Apalagi dia masih dalam masa penyembuhan, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu?

Mereka menyesal sudah memberitahu Lian Cheng kebenarannya. Yi Feng memberitahu mereka kalau Lian Cheng dan Xiao Tan sudah menandatangani kontrak sehidup semati. Jadi, Lian Cheng pasti akan tahu juga pada akhirnya.

"Suku Mo dan Suku Qu sudah lama berselisih, jadi Qu Xiao Tan tidak bisa tinggal di sini. Jika tidak, akan sulit untuk menenangkan kebencian panjang yang terkumpul dalam hati suku kita." Kata salah satu tetua.

"Kalian tidak boleh punya pikiran seperti itu. kebencian dan dendam di antara Suku Qu dan Suku Mo pada akhirnya akan terselesaikan secara alami. Apapun keputusan Lian Cheng, tak ada seorangpun yang bisa mencegahnya. Masalah ini berakhir di sini. Kalian tidak boleh membahasnya lagi"


Lian Cheng terbangun dan mendapati Xiao Tan tertidur di samping ranjangnya. Tiba-tiba dia batuk darah dan Xiao Tan jadi terbangun cemas karenanya.

Dia buru-buru menyembunyikan sapu tangannya yang berdarah dan meminta Xiao Tan mengambilkan guci obat di laci. Xiao Tan tanya ini obat apa?

"Itu bubuk batu biru. Sangat berkhasiat menyembuhkan batuk."


"Kalau begitu, bukankah ini sudah berusia ratusan tahun? Bukankah ini seharusnya sudah kadaluarsa?"

"Kadaluarsa? Apa itu?"

"Itu... bagaimana aku menjelaskannya, yah... segala sesuatu itu memiliki batas waktu. Kalau sudah melewati batas waktu itu, maka tidak akan efektif lagi."

"Lalu bagaimana dengan cinta? Apa cinta juga punya batas waktu?"

"Cinta... itu benar-benar lain perkara."

Tak sengaja Xiao Tan menjatuhkan guci obatnya. Lian Cheng langsung mengkritik kecerobohannya.

Xiao Tan membela diri kalau ini biasanya pekerjaannya Jing Xin, dia kan bukan pelayan, jadi dia tidak tahu bagaimana melakukan hal semacam ini dengan benar.


Lian Cheng memberitahu kalau di sini tidak ada pelayan, jadi dia harus bisa melakukan segalanya sendiri.

Xiao Tan memanggilnya Cheng Cheng lagi. Tapi kali ini, Lian Cheng protes meminta Xiao Tan untuk tidak lagi memanggilnya dengan sebutan itu. Panggil dia sebagai 'Tuan' atau Lian Cheng.

"Cheng Cheng itu terlalu kekanak-kanakan."

"Mungkin karena kau tidak terbiasa. Jika aku memanggilmu beberapa kali, kau mungkin akan terbiasa."

"Sekarang saja aku sudah tidak nyaman dengan panggilan itu. Kalau kau tidak bisa melakukannya, maka kau tidak perlu tinggal di sini lagi."

Xiao Tan mengalah dan terpaksa memanggilnya 'Tuan'. Dia mencoba mengingatkan Lian Cheng akan masa lalu mereka lagi. Seperti bagaimana dulu dia sering memberikan bunga mawar untuk Lian Cheng, tapi tetap saja Lian Cheng tidak bisa mengingatnya.

Tak menyerah begitu, dia membahas tentang saat Qing Yun berusaha membunuhnya di teater dan Lian Cheng hampir mati demi menyelamatkannya. Tapi Lian Cheng sama sekali tidak mengingat apapun.

"Suatu kali, aku sedang mandi dan kau diam-diam mengawasiku dari belakang. Dan juga, anak kita. Dia masih menunggu kita di Kerajaan Dong Yue. Kau pasti ingat semua ini, kan?"


Lian Cheng menggeleng lemah dan batuk-batuk lagi. Xiao Tan langsung kesal merutuki para tetua Suku Mo. Mereka bilang ini yang terbaik. Tapi nyatanya, mereka bukan cuma tidak menyembuhkan Lian Cheng, malah membuatnya batuk-batuk.

"Mereka bahkan memanggilmu... Tuan Muda Sun."

Lian Cheng sontak menegurnya marah, bahkan menghukum Xiao Tan dengan menyuruhnya berdiri menghadap tembok di luar kamar untuk merenungkan kesalahannya. Xiao Tan jelas kesal, tapi terpaksa melakukannya.


Tapi tentu saja Xiao Tan tidak tahan berdiam diri dan akhirnya mengajak si penjaga ngobrol dan tanya sudah berapa lama dia berdiri di sini? Penjaga bilang 6 jam.

"Wah! Kakak, kau hebat. Aku sungguh kagum dengan pekerjaanmu. Aku dulu agen real estate. Pekerjaanku sangat mengandalkan kepandaian bicara. Sementara kau punya pekerjaan yang lebih melelahkan daripada pekerjaanku."

"Aku menyuruhmu menghadap tembok dan jangan bicara dengan orang lain." Tegur Lian Cheng dari dalam kamarnya. "Kalau kau masih belum menyadari apa kesalahanmu sebelum gelap maka hukumanmu akan kutambah dua jam lagi."

Panik, Xiao Tan akhirnya menghadap tembok lagi. Tak lama kemudian, bibi pengantar makanan datang dan Lian Cheng memperbolehkan si penjaga kamarnya untuk pergi makan siang juga. Dia juga meminta mereka untuk tidak perlu terus menjaganya secara khusus di sini.

 

Cuma Xiao Tan seorang yang dia abaikan. Xiao Tan kecewa. Dia mencoba membujuk Lian Cheng untuk memberinya makan juga. Dia lapar sekali, bagaimana kalau dia menghadap tembok setelah makan saja?

Tak ada jawaban dari dalam kamar. Tapi tak lama kemudian, Lian Cheng akhirnya memperbolehkannya masuk juga.


Senang, Xiao Tan sontak memakan makanannya dengan sangat lahap sampai Lian Cheng cemas. "Makanlah pelan-pelan. Takkan ada yang mencuri makananmu."

Ucapannya itu kontan membuat Xiao Tan bersedih lagi, dulu Lian Cheng juga selalu mengatakan itu padanya. Tapi Lian Cheng hanya menanggapinya dengan dingin, makan saja sebelum makanannya dingin.


"Cheng Cheng, apa kau masih ingat waktu kita pertama kali bertemu? Aku ada di atas tembok dan mengataimu niang pao. Setelah itu, kau terus menanyaiku tentang arti niang pao. Setiap menit dan setiap detik bersamamu, benar-benar penuh kebahagiaan. Aku takkan pernah melupakannya."

Tak nyaman dengan ucapannya, Lian Cheng menggebrak meja dan menyuruhnya menghadap tembok lagi. Xiao Tan harus memikirkan apa kesalahannya. Xiao Tan membanting sumpitnya dengan kesal dan keluar.


Belum juga 5 menit berdiri, Xiao Tan sudah tidak tahan dan mencoba bernegosiasi dengan Lian Cheng agar dia bisa melaksanakan hukumannya sambil duduk saja. Lian Cheng mengizinkannya.

Tapi satu-satunya tempat duduk yang Xiao Tan temukan hanya di paviliun. Diam-diam dia lari ke paviliun itu dan duduk di sana. Tapi lama-lama dia malah ketiduran.

 

Lian Cheng mencoba fokus membaca. Tapi pada akhirnya, dia tetap tidak bisa mengabaikan perasaan aneh di dalam hatinya.

Entah kenapa saat Xiao Tan membahas hal-hal tadi, hatinya terasa sakit seolah mereka benar-benar saling mengenal satu sama lain. Seolah dia benar-benar mengatakan semua hal yang Xiao Tan katakan tadi.

"Walaupun aku melupakan kenangan tentangnya, tapi ingatan hatiku tidak bisa dihapus." Batin Lian Cheng sambil melihat luka di da**nya.


Tiba-tiba dia baru sadar kalau dia tidak bisa merasakan keberadaan Xiao Tan. Cemas, dia cepat-cepat keluar dan mendapati Xiao Tan ketiduran di paviliun, tapi tampak ada kekuatan magis yang menyelimuti tubuh Xiao Tan.

Lian Cheng terkejut melihat kekuatan magis itu. "Jangan-jangan...? Marganya Qu dan dia bisa mengontrol kekuatan spiritual itu. Dan dia juga memiliki Mutiara Penekan Jiwa. Apa mungkin dia..."


"Kau baru saja pulih, jadi aku tidak bisa memberitahumu." Ujar Yi Feng.

"Benar-benar dia orangnya?"

"Bisa dibilang begitu. Tapi juga bukan benar-benar dia. Dia yang seperti ini sebenarnya lebih baik untukmu."

"Apa maksudmu?"

"Wanita itu sebelumnya bahkan tidak mau melihatmu. Sedangkan dia yang sekarang memberikan semua perhatiannya padamu."

"Dia benar-benar jatuh cinta padaku?"


"Bukan cuma cinta. Jangan mencurigai hatinya. Demi kau, dia rela menumpahkan darahnya atau bahkan kehilangan nyawanya sendiri. Jika bukan karena dia melakukan banyak hal untukmu, kau pikir aku akan mau memaafkannya semudah itu?"

Dia menyarankan Lian Cheng untuk membiarkan Xiao Tan membayar hutang budinya (di kehidupan yang dulu) pada Lian Cheng di kehidupan sekarang.


"Kenapa masa laluku dengan Qu Xiang Tan jadi begitu buram? Seolah sudah ratusan tahun lamanya. Dengan gadis yang ada di depanku ini, aku merasakan perasaan yang sulit dijelaskan. Setiap kali melihatnya, aku terus merasakan rasa sakit ini. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu."


Malam harinya saat Xiao Tan menuntun Lian Cheng ke tempat tidurnya, Lian Cheng tanya apakah Xiao Tan sungguh tidak ingat apa yang terjadi pagi tadi? Xiao Tan bingung, dia kan cuma tidur tadi, kenapa semua orang gugup karenanya.

"Apalagi para tetua Mo itu. Saat mereka melihatku, mereka mendengus dan mempelototiku seolah aku sudah membakar rumah mereka."

Lian Cheng beralasan itu karena kedua suku bermusuhan, jadi wajar kalau mereka memperlakukan Xiao Tan seperti itu. Tapi, apa Xiao Tan benar-benar bukan berasal dari Suku Qu?

"Kenapa kau tidak percaya padaku juga? Margaku memang Qu, tapi aku bukan berasal dari Suku Qu. Aku bahkan tak mengenal mereka satupun. Kalau kau mencurigaiku, kau bisa..."

"Baiklah. Aku mempercayaimu."


Lian Cheng bilang kalau dia lelah dan mau istirahat sambil terus menatap Xiao Tan sampai Xiao Tan jadi canggung dibuatnya.

"Kenapa kau cuma berdiri di situ? Bukankah kau istriku?"

Ah, Xiao Tan cepat-cepat membantu Lian Cheng melepas sepatunya dan menyelimutinya. "Tuan, beristirahatlah. Aku akan berjaga di luar. Kalau kau butuh apa-apa, panggil saja aku."


"Kenapa kita tidak tidur bersama? Bukankah kau istriku?"

Xiao Tan membenarkannya, dia memang istri sahnya Lian Cheng. Tapi saat Lian Cheng mengajaknya tidur bersama, Xiao Tan malah terdiam gugup dan bimbang. Lian Cheng langsung berbalik membelakanginya, terserah Xiao Tan saja kalau begitu.


Xiao Tan akhirnya melepaskan sepatunya dan berbaring di sisi Lian Cheng. Lian Cheng tanya, apa yang Xiao Tan katakan pada Yi Feng hingga membuat Yi Feng tersentuh. Xiao Tan mengklaim kalau dia hanya mengatakan hal itu karena dia sangat putus asa waktu itu.

"Apa kau tidak ingat?"

"Aku ingat. Aku bilang kalau aku hanya meminjamkanmu untuk sementara pada mereka. Setelah itu, mereka harus mengembalikanmu padaku. Karena..."

"Karena apa?"

"Karena kau adalah milikku seorang."

Tapi Lian Cheng dingin menanganggapinya, "Sudah larut. Ayo tidur."

Bersambung ke episode 23

Post a Comment

0 Comments