Sinopsis The Eternal Love Episode 20 - 2

Sinopsis The Eternal Love Episode 20 - 2


Xiao Tan mendatangi Lian Cheng saat dia masih merenung menatap langit. Lian Cheng tanya bagaimana keadaan Ibu Tan Er sekarang.

"Tanpa siksaan Nyonya Qu dan Pan Er, tentunya dia takkan hidup tidak bahagia. Tapi Qu Zhao Ying dipecat dan diasingkan, dia sangat sedih."

Lian Cheng menggenggam tangan Xiao Tan saat dia memberitahu Xiao Tan bahwa segala hal yang diperbuat Yi Huai selama ini, ternyata supaya Kaisar menghabisinya sejak awal dan dia melakukan semua itu dengan Qu Tan Er.


Mereka lalu duduk bersama di bawah pohon sakura. Xiao Tan mengaku kalau belakangan ini dia sering bermimpi. Dia memimpikan seorang gadis yang sama berlari di depannya.

"Dia berlari ke sebuah peti lalu melambaikan tangannya dan mengucap selamat tinggal padaku, lalu dia menghilang."

"Mungkin itu ucapa selamat tinggal Nona Qu padamu."

Dulu saat Lian Cheng belum bisa membedakan mereka berdua, ada banyak hal lucu terjadi. Bahkan saat Nona Qu berusaha menggantung dirinya sendiri, Jing Xuan malah menggodanya.


Xiao Tan menangis menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja dia tidak memasuki tbuh Xiao Tan, mungkin dia masih hidup dengan baik sekarang.

"Aku mencuri waktunya! Aku mencuri kebahagiaannya! Ini semua salahku! Dulu aku tidak memberinya cukup waktu untuk bersama orang yang dia cintai. Semuanya salahku!"

"Berhentilah menyalahkan dirimu. Jika kau tidak ada, dia tetap harus menikah denganku. Jika kau tidak ada, maka aku, Kakak Pertama dan Qu Tan Er masih akan hidup dalam penderitaan dan keputusasaan.

Kakak Pertama dan Qu Tan Er, mungkin sudah bersatu di dunia lain yang damai. Mereka akan bersama selamanya. Mereka mungkin hidup seperti peri kekasih sekarang."


Di istana, Kaisar memluk kotak berisi buku-buku jurnalnya Yi Huai, tampak begitu sedih dan putus asa. "Wilayah, pemerintahan, sesuatu yang diperebutkan dan didambakan ribuan orang. Tapi berapa banyak yang benar-benar bisa memahami sakitnya kehilangan seorang putra?"

Ia sungguh tak mengerti kenapa kerajaannya memiliki masalah seperti ini? "Langit! Kenapa Kau begitu tidak adil padaku?! Cheng'er! Huai'er!"


Waktu berlalu seperti biasanya. Sekarang, rumah Tuan Qu disita dan pengawal menangkapnya. Kakek Liu kadang kala mengatakan hal-hal aneh tentang sebuah tempat magis. Sepertinya rahasia Lian Cheng dan Xiao Tan tersembunyi di tempat itu.

Tapi setiap kali Xiao Tan ingin tahu lebih banyak tentang masalah itu, Kakek Liu selalu tutup mulut. Kakek Liu hanya berkta bahwa takdir ditetapkan di batu. Tapi apapun yang diatur oleh takdir, Lian Cheng dan Xiao Tan sudah yakin akan apa yang mereka inginkan.


Mereka mengucap perpisahan pada Kaisar dan Ibu Suri dan menghabiskan masa 2 tahun berduaan saja. Mereka hidup damai tanpa ada seorang pun yang mengganggu mereka.

Mereka tampak begitu bahagia saat kejar-kejaran di kebun bunga, merangkai bunga-bunga jadi mahkota dan bermsraan di sana.


Dua tahun berlalu dan sekarang, terdengar suara jeritan nyaring Xiao Tan yang tengah berjuang melahirkan bayi mereka. Dia mencengkeram tangan Jing Xin sekuat tenaga sampai Jing Xin kesakitan, sementara Lian Cheng cemas setengah mati di luar.

"Mo Lian Cheng! Kau baj*ngan! Aku takkan pernah melahirkan lagi! Kau saja yang melahirkan di kehidupan selanjutnya!"

"Baiklah! Baiklah! Aku akan bertukar denganmu!"

Jing Xuan malah ribut tak sabaran, kapan Kakak Ipar Ke-8 melahirkan? Lin Cheng jadi kesal karenanya, keluar saja sana! Lian Cheng benar-benar cemas tak tahu harus bagaimana, Yu Hao sedang tidak ada dan Kakek Liu juga tak bisa ditemukan.


Bahkan sampai beberapa lama kemudian, bayinya masih belum keluar. Xiao Tan terus menerus mengutuki Lian Cheng hingga akhirnya dia tidak kuat lagi dan pingsan.

Bidan langsung cemas dan melapor ke Lian Cheng kalau Xiao Tan mengalami pendarahan hebat dan mereka tak mampu menghentikannya.

Lian Cheng galau saat tiba-tiba saja Kakek Liu melesat masuk bak angin lalu menyalurkan kekuatan spiritualnya ke perut Xiao Tan hingga Xiao Tan sadar kembali. Kakek Liu meyakinkan kalau Xiao Tan sudah baik-baik saja sekarang dan bisa melahirkan dengan normal.


Dia lalu melesat keluar menemui Lian Cheng. Lian Cheng sungguh berterima kasih padanya. Dan tak lama kemudian, akhirnya terdengar suara jerit tangisan bayi.

Bidan lalu keluar tak lama kemudian untuk memperlihatkannya pada Lian Cheng. "Selamat Yang Mulia, Ini pangeran kecil."

Semua orang keluar dan Lian Cheng masuk dengan membawa bayi mereka. "Apa kau sudah memilikirkan nama untuk bayi kita?"

"Aku membaca banyak buku sampai sobek. Aku sudah memikirkannya berhari-hari. Namanya adalah You Yu."

"Mo You Yu? Lumayan juga. Panggilannya adalah Yu'er."


Tapi saat Lian Cheng kembali menemui Kakek Liu, Kakek Liu berkata bahwa walaupun Xiao Tan sekarang baik-baik saja, tapi anak mereka nantinya akan menghadapi kehidupan yang pahit.

Kelahiran yag sulit adalah dampak dari kekuatan Mutiara Penekan Jiwa. Kekuatan mutiara itu akan semakin menguat dan Xiao Tan tidak benar-benar memiliki kekuatan untuk mengendalikannya, jadi akan mudah baginya terluka karena serangan baliknya.

Kekuatan itu juga mempengaruhi segala sesuatu di dekatnya. Bayi yang baru lahir, biasanya memiliki tingkat kekebalan tubuh yang rendah. Jadi bayi mereka akan mudah terluka karenanya.

Jadi maksudnya, Xiao Tan tidak bisa memluk ataupun menyentuh bayi mereka walaupun dia ibunya sendiri? Kakek Liu menyarankan lebih baik begitu, demi kebaikan Xiao Tan dan bayi mereka.


"Hari ketujuh bulan keenam adalah ulang tahunku yang ke-25 tahun. Waktu yang tersisa sangat sedikit."

"Entah tipuan apa yang dimainkan si Mo Berwajah Dingin itu?" Rutuk Kakek Liu.

Mendengar Kakek Liu menyebut nama itu berulang kali, Lian Cheng benar-benar penasaran, siapa sebenarnya orang yang Kakek Liu maksud itu? Dan apa hubungan antara dia dan orang yang Kakek Liu sebut itu?

Kakek Liu seperti biasanya, cuma menyuruh Lian Cheng menebak. Tapi sedetik kemudian, dia berubah pikiran, tida usah ditebak. "Jika sudah waktunya, kau akan tahu dengan sendirinya."


Suatu malam, Xiao Tan tanya apakah Lian Cheng belum kembali dari membawa Yu'er ke istana? Jing Xin membenarkannya.

"Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa membesarkan anakku sendiri. Aku bahkan tidak bisa melihatnya. Dengan perpisahan ini, kami akan terpisahkan oleh kehidupan dan kematian."

"Xiao Tan, jangan bicara omong kosong. Kau dan Pangeran adalah orang paling baik hati di dunia. Aku sering ke kuil dan mendoakan kalian akan hidup sampai tua dan berharap pangeran kecil bisa tumbuh sehat."


Tapi Xiao Tan cepat menghentikannya. Dia tahu itu takkan mungkin, karena setelah jam sekarang berlalu adalah ulang tahun Lian Cheng yang ke-25 tahun. Kesehatannya sendiri juga semakin memburuk setiap hari.

"Akhir ini sudah datang sejak lama."

Jing Xin tak kuasa lagi menahan air matanya. Dia sungguh tak menyangka, setelah berpisah dengan nonanya, sekarang dia harus berpisah dengan Xiao Tan.

"Aku melayani nonaku selama bertahun-tahun, tapi aku merasa lebih dekat denganmu. Dalam hatiku, aku sudah lama menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Aku tidak mau membiarkan Xiao Tan..."


Tapi dia tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Lian Cheng datang saat itu. Lian Cheng menggenggam lembut tangan Xiao Tan dan meyakinkan kalau Yu'er sudah aman sekarang. Dia sudah menyerahkan Yu'er pada Kaisar.

"Dia melihat segala sesuatu di sekeliling tempat Ayahanda. Dia terus menggenggam gulungan laporan dan tak mau melepaskannya. Ayanda bilang kalau dia pasti akan melakukan hal yang hebat nantinya."

"Aku hanya berharap Yu'er bisa tumbuh dengan aman."

"Adik Ke-14 sedang berdebat dengan Ayahanda atas hak untuk membesarkan Yu'er."

"Xiao Xuan sendiri kan masih kecil."

"Iya. Bagaimana bisa aku tenang?"


Xiao Tan lalu memanggil Jing Xin dan memberitahunya kalau dia sudah menyiapkan banyak pakaian utuk Yu'er. Cukup untuk Yu'er pakai sampai dia berusia 4 tahun.

"Aku tak tenang menyerahkannya pada orang lain. Yu'er, lebih baik jika kau yang merawatnya."

Jing Xin berusaha menahan isak tangisnya saat dia meyakinkan Xiao Tan untuk tidak cemas. Dia pasti akan merawat pangeran kecil dengan baik sebagaimana dia merawat mereka berdua selama ini.

"Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi pangeran kecil," janji Yu Hao.

"Kau dengar itu? Ada begitu banyak yang mencintai Yu'er, jadi kau bisa tenang."


Tiba-tiba mereka merasakan angin yang berhembus kencang di luar. Menyadari itu pertanda bagi mereka, Lian Cheng meminta Jing Xin dan Yu Hao keluar.

Lian Cheng menyandarkan Xiao Tan dalam plukannya saat Jing Xin dan Yu Hao menatap mereka untuk yang terakhir kalinya dan menutup pintu.

"Cheng Cheng, aku tak pernah merasa sedamai dan setenang hari ini."

"Takkan ada lagi yang bisa memisahkan kita."

Xiao Tan membatin merindukan kedua orang tuanya. "Mungkin dalam kehidupan ini, aku takkan pernah bisa kembali ke sisi kalian lagi."


Kaisar dan Jing Xuan pun sedih menyadari apa yang tengah terjadi sementara Yu'er menangis keras dalam pelukan Kaisar.

Ibu Suri tersentak bangun seolah menyadari ada yang datang, tapi tak ada siapapun di sana.

"Cheng'er, aku mencintai Kakekmu, Mo Yi Feng, begitu dalam. Tapi dia pergi begitu saja. Sekarang, kalian semua juga akan pergi meninggalkanku. Apa semua ini adalah hukuman Langit untukku?"


Angin berhembus semakin kencang hingga tiba-tiba saja membuat pintu kamar Xiao Tan terbuka.

Yu Hao dan Jing Xin langsung berlari masuk, tapi kamar itu sekarang sudah kosong. Tak ada jejak Lian Cheng dan Xiao Tan di sana, mereka seolah menghilang ke udara.

"Xiao Tan, kemanapun kalian berdua pergi, aku akan menjaga tempat ini sepanjang hidupku, menjaga pangeran kecil dan menunggumu kembali." Janji Jing Xin.

Deleted Scene:


Banyak yang penasaran sama adegan ini yah? Di dramanya emang nggak ada soalnya ini deleted scene.

Jadi ceritanya, Xiao Tan bikin kejutan untuk Lian Cheng dengan ngedance s***i sambil gigit bunga mawar merah. Xiao Tan memberitahu Lian Cheng kalau mawar merah artinya lambang cinta.

Terus Lian Cheng tanya kenapa Xiao Tan tidak memberinya bunga mawar merah sebelumnya. Xiao Tan bilang kalau seharusnya pria yang memberi bunga ke wanita.

Tapi dasar Lian Cheng, dia nggak mau tahu dan menuntut Xiao Tan untuk memberinya bunga mawar merah tiap hari pakai nge-dance kayak tadi.

Xiao Tan protes sambil berdiri, tapi tiba-tiba kepalanya pusing dan mual-mual. Setelah diperiksa Tabib Gao, dia dinyatakan hamil. Lian Cheng bahagia dan berjanji akan  memberikan apapun yang Xiao Tan inginkan.

Xiao Tan menuntut Lian Cheng untuk memberinya bunga mawar merah tiap hari... pakai baju dan nge-dance se**i kayak dia tadi.

Lian Cheng jelas protes tak setuju, tapi Xiao Tan langsung manyun. Akhirnya Lian Cheng mengalah dan berjanji akan melakukan apapun yang Xiao Tan mau. (Maaf gambarnya cuma satu, soalnya videonya nggak ku-download) 

Bersambung ke episode 21

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam