Sinopsis Catch Me / Steal My Heart - Part 1

Sinopsis Catch Me / Steal My Heart - Part 1


Lee Ho Tae adalah seorang polisi tampan yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya, dia selalu berusaha membantu teman sesama polisi dalam menangkap penjahat dengan cara apa saja bahkan hanya dengan cara sederhana seperti menghalangi penjahat melarikan diri dengan troli.

Dalam sebuah acara seminar, Ho Tae memberi pidato bahwa kunci terpenting dalam menangkap penjahat adalah otak. Karena dalam menangkap penjahat mereka harus berpikir secara rasional.

"Rasionalitas yang digabungkan dengan perasaan membutuhkan kepala yang dingin. Jika kalian dibutakan oleh penampilan luar maka kalian pasti akan menggunakan perasaan untuk menyelesaikan masalah. Dan jika itu terjadi maka kalian akan dengan mudah masuk kedalam perangkap si penjahat. Kenapa? Karena para penjahat itu gila"


Di kantor polisi, kepala detektif datang ke sebuah ruang rapat dimana sudah banyak polisi yang menunggu kedatangannya dan mereka langsung berdiri secara serempak saat kepala detektif datang kecuali detektif Kim yang sedang asyik tidur di kursinya.

Kepala detektif sangat kesal melihatnya dan langsung membanting topi polisinya ke meja dengan kesal untuk membangunkan polisi tidur itu.


Ia lalu memimpin rapat untuk membahas kasus hilangnya 6 wanita yang terjadi selama 3 bulan terakhir dan 5 dari wanita-wanita yang hilang itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Yang membuat kepala detektif marah adalah mereka sama sekali tidak bisa melacak jejak pembunuhnya bahkan bayangannya pun tidak bisa mereka temukan.

"Tempat kejadian kasus ini tidak dapat dikonfirmasi" ujar salah seorang polisi.

Mereka bahkan tidak yakin apakah pelakunya adalah orang yang sama atau tidak. Kepala detektif bingung apa maksudnya, bukankah kasus ini adalah kasus pembunuhan berantai.


"Benar, kasus ini adalah pembunuhan berantai" kata Ho Tae yang baru saja tiba.

Ho Tae menekankan bahwa persamaan dari kasus pembunuhan berantai ini adalah TKP yang tidak bisa dikonfirmasi. Jika tidak ada TKP maka modus operandinya pun tidak akan bisa dikonfirmasi, tidak bisa mengumpulkan data dan informasi.


Dari kesaksian orang dalam, sebelum para wanita itu menghilang, mereka berada di tempat-tempat yang ramai seperti cafe atau gym.

"Dengan kata lain, ini bukan penculikan tapi penyerahan diri. Jadi ada kemungkinan penjahatnya adalah orang yang dikenal"

Ho Tae lalu mengejutkan semua anggota polisi saat ia mengatakan bahwa malam ini ada kemungkinan si penjahat akan ditangkap.


Ho Tae menduga bahwa malam ini kemungkinan si penjahat akan muncul di lapangan golf yang sering dikunjunginya. Ho Tae juga menduga bahwa penjahatnya adalah orang berpendidikan tinggi yang belum menikah.

"Tinggi b*dan 180 cm. Dahinya berbentuk M yang dikarenakan rambutnya rontok"

Ho Tae menduga bahwa si penjahat akan muncul dengan mengenakan topi untuk menutupi masalah rambutnya. Dilihat dari tulisan tangan tersangka, kemungkinan pelakunya adalah orang kidal.


"Dugaan terbesar dari kasus ini adalah, direktur klinik bedah plastik, Park Teuk Lee" ujar Ho Tae sambil memperlihatkan foto tersangka


Malam harinya, semua anggota polisi berjaga di beberapa tempat yang sudah ditunjuk oleh Ho Tae. Mereka melihat ada seorang pria dengan semua ciri-ciri yang pernah disebutkan oleh Ho Tae dalam diri pria itu. Rambutnya setengah botak membentuk huruf M, mengenakan topi, dan menyalakan pemantik dengan tangan kiri.


"Sepertinya dia sedang mengambil sesuatu dari bagasi" lapor detektif Kim yang sedang mengintai si tersangka.

Detektif Kim memerintahkan semua anak buahnya untuk menunggu dulu sampai semua bukti jadi meyakinkan. Kepala detektif, Ho Tae dan semua anggota polisi yang menunggu di pusat langsung terdiam tegang.


Ketegangan mereka langsung sirna saat mereka mendengar polisi pengintai berteriak bahwa penjahatnya sudah tertangkap. Kepala detektif sangat senang sampai-sampai dia menjanjikan hadiah kalau mereka berhasil menangkap tersangka.

"Tapi tersangka pelaku itu..." teriak detektif Kim dengan panik Teriakan polisi pengintai itu kontan membuat mereka tegang lagi. Apakah yang terjadi?


Saat si tersangka sedang menyeberang di sebuah jalan yang sangat sepi, tiba-tiba sebuah mobil melaju ke arahnya dalam kecepatan yang tinggi dan langsung menabraknya sampai membuat si tersangka terpental berputar-putar di udara sebelum akhirnya dia terbanting di aspal.


Si tersangka masih bisa berdiri setelah ia jatuh, namun detektif Kim dan rekannya yang melihatnya dari kejauhan langsung berteriak ketakutan karena mereka melihat mobil itu sedang mundur untuk menabrak si tersangka lagi.


Semua polisi yang sedang mengintai langsung keluar dari tempat persembunyian mereka berusaha menyelamatkan si tersangka dan mengejar si penabrak namun si penabrak langsung melarikan diri.


Si tersangka yang sedang sekarat langsung dilarikan ke rumah sakit dan para reporter langsung datang berbondong-bondong untuk meliput kejadian itu. Ho Tae yang juga ikut datang ke kantor polisi, langsung menghampiri si tersangka untuk menanyakan dimana dia mengubur para korbannya.

"Cepat beritahu, brengs**k!" teriak Ho Tae pada si tersangka yang sedang sekarat


Dokter yang melihat kelakuan Ho Tae langsung marah-marah, kalau Ho Tae ingin melakukan investigasi seharusnya dia melihat kondisi pasien dulu.

Tapi sebagai polisi, Ho Tae merasa tidak perlu melihat kondisi si tersangka, apalagi si tersangka adalah seorang penjahat. Orang yang disebut pasien itu adalah seorang penjahat yang nyawanya tidak berharga.

"Apa?" Dokter tak terima dengan kata-kata Ho Tae.



"Nyawa paling penting! Anda jelas-jelas telah melanggar hak asasi manusia!" protes salah seorang reporter.

"Saat bukti-bukti tidak memadai, tersangka tidak bisa lagi dijadikan tersangka" ujar seorang reporter lainnya.

Ho Tae tertawa geli mendengarnya tapi kepala detektif langsung datang untuk membisikinya peringtakan agar Ho Tae menjaga citra baik kepolisian. Maka Ho Tae pun berusaha bersikap tenang menghadapi pertanyaan-pertanyaan para reporter.


"Saya yakin sekali dengan profile yang saya miliki"

"Tapi apakah anda tidak berpikir kemungkinan terjadinya penyimpangan?"


"Profiling yang terkumpul bukan berdasarkan spekulasi, tapi kesimpulan yang diambil dari bukti-bukti. Jika kesimpulan saya salah, konsekuensinya akan ditanggung oleh..." ujar Ho Tae sambil berpaling ke kepala detektif yang berdiri di sebelahnya.

Kepala detektif langsung protes "Hei, bukan aku."

Tapi para reporter langsung menyorotkan kamera mereka pada kepala detektif yang langsung menunduk sambil menghalangi wajahnya dengan tangan supaya tidak direkam.



Ho Tae tiba-tiba mendapat telepon dari detektif Kim yang memberitahu kabar gembira bahwa mereka telah berhasil menemukan satu mayat yang belum sempat terkubur.


Segera setelah mendapat kabar itu, para reporter langsung berpaling kembali ke Ho Tae dan kepala detektif yang tadinya tertunduk malu langsung muncul di depan Ho Tae dengan percaya diri.

"Sekarang jam 00:23, di TKP, telah ditemukan sebuah mayat" seru kepala detektif, ia lalu merngkul Ho Tae dan bersama-sama mereka berpose untuk kamera.


Keesokan harinya, Ho Tae dipanggil ke ruangan kepala detektif yang memberitahunya bahwa akan ada penyesuaian personil yang mana posisi ketua masih kosong. Sesaat Ho Tae tersenyum senang mengira kepala detektif akan memberikan posisi ketua itu padanya.


Tapi Ho Tae langsung kecewa saat kepala detektif malah menyuruhnya untuk mencari supir mobil yang telah melakukan tabrak lari itu untuk memberinya pernghargaan karena berkat si pelaku tabrak lari itulah si pembunuh berantai berhasil tertangkap.


Setelah keluar dari ruangan kepala detektif, anak buahnya memberikan identitas pelaku tabrak lari pada Ho Tae. Tapi Ho Tae bertekad untuk menutup kasus ini sendiri agar dia mendapat penghargaan. Ho Tae kesal pada pelaku tabrak lari yang telah merampas segala daya upayanya dalam kasus ini.

"Dia akan mati kalau tertangkap olehku" geram Ho Tae.


Saat Ho Tae pulang ke rumah, dia langsung membaca buku-buku untuk mempelajari psikologi penjahat yang kabur. Menurut buku, penjahat yang kabur biasanya memiliki kecemasan yang berlebihan yang disebabkan oleh gangguan psikologis negatif, kehilangan rasa realitas tapi tenang berlebihan.


Ho Tae lalu mencoba melakukan olah TKP dengan menggunakan mainan miniatur. Ho Tae yakin setelah melakukan tindak kejahatan, si pelaku pasti tidak akan memarkir mobilnya di halaman parkir rumahnya.


Karena itulah pada keesokan harinya, Ho Tae berkeliling, berusaha mencari keberadaan mobil tersangka di lapangan parkir umum, namun dia tidak bisa menemukan keberadaan mobil itu dimanapun.

Ho Tae berpikir mobil yang digunakan untuk tabrak lari itu pasti akan direparasi di bengkel terdekat dengan sangat cepat dan menggunakan uang tunai, karena itulah Ho Tae langsung pergi ke sebuah bengkel yang paling dekat dengan rumah si tersangka untuk menanyakan informasi mobil si pelaku tabrak lari. Tapi lagi-lagi dia tidak mendapatkan hasil apapun.


"Memarkir mobil di tempat parkir rumah sendiri itu... idiot" pikir Ho Tae.

Ia lalu memutuskan untuk mendatangi rumah si tersangka dan betapa terkejutnya dia saat dia melihat mobil yang dicurigai ternyata sedang terparkir tepat di depan halaman parkir rumah si tersangka dan belum direparasi sama sekali.

"Dia pasti orang yang aneh. Atau lebih tepatnya... idiot" pikir Ho Tae.


Ho Tae lalu mengetuk pintu apartemen si tersangka namun tidak ada jawaban dari dalam apartemen itu. Ho Tae lama-lama frustasi karena belum ada orang yang membuka pintunya setelah beberapa kali ia berusaha mengetuk pintunya. Saking frustasinya, Ho Tae mencoba membuka pintunya tapi ternyata pintunya tidak terkunci sama sekali.


Saat sedang melongok kedalam apartemen, tiba-tiba saja seorang pengantar mie datang dari belakangnya dan langsung mendorongnya masuk.


Dan setelah menaruh pesanan mienya di lantai, kurir makanan itu langsung mengulurkan tangan pada Ho Tae untuk menagih uang pesanan mie itu. Ho Tae langsung kesal.


Setelah membayar mienya, Ho Tae lalu membawanya masuk kedalam apartemen. Ia melihat ada seorang wanita yang membelakanginya dan tidak menyadari kehadirannya.

Ho Tae lalu menaruh mienya di lantai lalu tanpa basa-basi Ho Tae langsung mempertanyakan pada wanita itu apakah mobil putih yang terparkir didepan itu miliknya. Namun wanita itu sama sekali tidak menjawabnya malah asyik sendiri menyiram bunga-bunga yang ditanamnya.


"Anda punya hak untuk tetap diam" Ho Tae mulai membacakan hak-hak tersangka. Dan si tersangka benar-benar diam mengacuhkan Ho Tae sambil terus menyirami bunga-bunganya.

Kali ini Ho Tae benar-benar kesal dan langsung berteriak pada si tersangka "Hei, nona Yoon Jin Sook. Walaupun hak untuk diam digunakan secara legal. Tapi sekarang anda harus bicara pada saya!"

Jin Sook akhirnya mendengarnya dan langsung berbalik padanya dengan memakai masker diseluruh wajahnya.


"Kau membuatku terkejut. Cepat juga datangnya" ujar Jin Sook yang ternyata tidak mendengarkan omongan Ho Tae karena dia sedang memakai headphone .

Jin Sook terbatuk karena dia sedang flu lalu ia bertanya berapa harga mienya karena dia mengira Ho Tae adalah tukang antar mie. Ho Tae lalu menunjukkan kartu ID polisinya pada Jin Sook.

"4 hari yang lalu tanggal 17 sekitar jam 12 tengah malam. Anda membawa mobil ini, bukan? Ditambah lagi anda menabrak orang"

Ho Tae memberitahu Jin Sook bahwa orang yang telah ia tabrak adalah seorang pembunuh berantai.


Awalnya Jin Sook terlihat cemas namun kemudian dia langsung bersedekap sambil mendengarkan ocehan Ho Tae dengan tenang.

"Apa anda sedang menginterogasi saya sekarang?" tanya Jin Sook


Baiklah, Ho Tae akan mengulanginya. Tapi belum selesai Ho Tae menyelesaikan kalimatnya, Jin Sook tiba-tiba mengacuhkan Ho Tae lalu masuk kedalam kamarnya sampai membuat Ho Tae bengong.


Beberapa saat kemudian, Ho Tae mondar mandir dengan kesal menyuruh Jin Sook untuk cepat keluar. Jin Sook pun akhirnya keluar, siap untuk pergi dengan Ho Tae dengan masih memakai maskernya.


"Tolong lepas maskernya"

Tapi Jin Sook langsung geleng-geleng, tidak mau melepaskan maskernya. Ho Tae jadi bingung apakah Jin Sook tidak tahu bahwa dia akan dibawa ke kantor polisi. Jika dia ke kantor polisi maka maskernya harus dilepas atau jika ingin menutupi wajahnya dia bisa keluar dengan mengenakan topi. Tapi Jin Sook tetap cuek, malah dia semakin menekan-nekan maskernya supaya tetap tertempel di wajahnya.

"Kau sudah gila yah?" kali ini Ho Tae benar-benar kesal.


"Apa kau sanggup menanggungnya?" tanya Jin Sook

Ho Tae kesal kenapa dia harus tidak sanggup melihat wajah polos tanpa make up Jin Sook, memangnya mereka sedang kencan buta atau apa. Ho Tae lalu mengulurkan tangan untuk melepas maskernya Jin Sook tapi Jin Sook terus berusaha untuk menghindarinya. Lama-lama Ho Tae jadi kesal karenanya dan saking kesalnya dia langsung menarik masker Jin Sook sampai terlepas.


Sesaat Ho Tae senang. Tapi kemudian, raut wajahnya berubah saat dia mengenali wajah Jin Sook yang langsung menyapanya dengan akrab.

"Lama tak bertemu."

"Lee Sook Ja?" Ho Tae sangat terkejut melihat Yoon Jin Sook ternyata adalah wanita lugu yang dulu pernah dikenalnya.


Beberapa saat kemudian, Ho Tae membiarkan Jin Sook memakan mienya sebelum mereka pergi ke kantor polisi. Ho Tae memperhatikannya makan dan memberitahu Jin Sook bahwa mereka telah berpisah selama 10 tahun pas.

"Benarkah?" Jin Sook agak canggung mendengar lamanya mereka berpisah.


"Ternyata kau adalah Yoon Jin Sook?"

Saat Jin Sook hendak menjelaskan kenapa dia punya 2 nama, Ho Tae tidak mau mendengar alasannya malah menyodorkan acar lobak pada Jin Sook.

"Apa kau makan juga?" Jin Sook menawari Ho Tae.

Tapi Ho Tae menolaknya dan menyuruh Jin Sook cepat-cepat menghabiskannya. Jin Sook memakannya sedikit lalu beranjak masuk kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor polisi.


Saat Jin Sook sedang dikamar, tiba-tiba Ho Tae merasa lapar dan ia langsung memakan sisa mie itu.

"Aku sedang flu, apa tidak apa-apa kau makan itu?" tanya Jin Sook

Ho Tae jelas terkejut mendengar suara Jin Sook yang tiba-tiba itu, ia meyakinkan Jin Sook bahwa dia tidak akan kenapa-kenapa karena dia hanya makan sedikit.


Dalam perjalanan ke kantor polisi, Jin Sook bertanya apakah keadaan orang yang ditabraknya baik-baik saja. Ho Tae mengatakan bahwa orang itu baik-baik saja malah Jin Sook telah melakukan jasa karena dia tlah menabrak seorang pembunuh berantai.

Jin Sook terkejut dan  ketakutan mendengarnya, tapi apakah itu berarti dia yang telah menangkap si pembunuh itu. Ho Tae membenarkan, Jin Sook bukan menangkap si pembunuh tapi dia menabrak orang yang hendak ditangkap oleh Ho Tae.


"Ah, apa kau bawa KTP dan SIM?" tanya Ho Tae

Jin Sook mendadak tegang "Aku tidak punya SIM."


Ho Tae sontak terkejut sampai-sampai ia langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Jin Sook memberitahu Ho Tae bahwa sebenarnya malam itu ia mengemudi tanpa SIM.

"Tidak punya SIM berani bawa mobil?"

Jin Sook beralasan bahwa dia harus membeli mobil dulu supaya dia bisa berlatih untuk mengurus SIM. Lalu err... entah sengaja atau tidak, Jin Sook tiba-tiba terbatuk-batuk lagi sampai membuat Ho Tae tidak tega dan akhirnya ia membiarkan Jin Sook istirahat sejenak di mobilnya.


Ho Tae lalu membawanya membeli obat ke apotik, saat hendak membayar obatnya, baik Ho Tae maupun Jin Sook saling berebut untuk membayar obatnya sampai membuat apoteker tersenyum melihat kedua sejoli itu.


"Bisa bayar pakai kartu kan?" tanya Jin Sook

"Bagaimana dengan cek?" tanya Ho Tae

Senyum apoteker langsung hilang "Pakai kartu saja, cuma 4500 won."


Saat mereka melanjutkan perjalanan, Ho Tae mengomeli Jin Sook karena dia telah melarikan diri dan mengemudi tanpa SIM yang mana hukumannya pasti akan jauh lebih berat. Tapi Jin Sook malah tidak menjawabnya, Ho Tae lalu berpaling dan melihat Jin Sook tengah tertidur nyenyak. Saat itu juga, Ho Tae mendapat telepon dari seseorang yang memberinya sebuah kabar mengejutkan.



Ho Tae dan Jin Sook lalu pergi ke apartemen Ho Tae, kabar mengejutkan itu ternyata datang dari satpam apartemen yang mengatakan bahwa pipa air di apartemen Ho Tae bocor dan airnya mengalir sampai keluar apartemen.


Jin Sook bertanya-tanya apakah stop kontaknya tidak basah, jika iya maka air itu bisa menyetrum. Mendengar kata setrum, pak satpam ketakutan lalu mundur pelan-pelan ke belakang Ho Tae.


Ho Tae yakin pasti tidak akan apa-apa, maka ia memberanikan diri melepas sepatunya dan melangkahkan kakinya di air, dan saat kakinya menyentuh air, saat itu pula ia tersengat listrik sampai tubuhnya gemetaran.


Beberapa saat kemudian mereka berdua akhirnya bisa masuk rumah dan bergotong royong mengepel air yang tumpah.


Saat sedang mengepel, Ho Tae mendapat telepon dari kepolisian, Ho Tae tahu apa maksudnya maka dia langsung mengakhiri acara mengepel itu. Ia memberitahu Jin Sook bahwa mereka harus datang ke kantor polisi sebelum semua orang pulang kerja. Jin Sook terlihat tegang namun dia berusaha menutupinya dengan ceria.


Ho Tae lalu memberikan jaket Jin Sook yang sudah basah setelah dipakai untuk mengepel. Saat dia melihat Jin Sook memakai jaketnya sambil terbatuk-batuk, Ho Tae jadi teringat kalau Jin Sook sedang sakit.

"Buka saja bajunya, basah semua" ujar Ho Tae sambil berusaha melepaskan jaket Jin Sook yang basah.


Tapi kemudian dia memutuskan agar Jin Sook memakainya saja karena mereka harus pergi ke kantor polisi sebelum jam pulang kerja. Tapi tiba-tiba ia berubah pikiran lagi, sebaiknya jaketnya dibuka saja karena dia takut sileknya Jin Sook bertambah parah.

Lalu Ho Tae berubah pikiran lagi "Atau pakai saja."

Ho Tae sangat bingung harus bagaimana, tapi kemudian dia memutuskan sebaiknya jaket Jin Sook dilepas saja karena dia takut Jin Sook demam.


Jin Sook yang sedari tadi hanya bengong melihat kebingungan Ho Tae, langsung mendorongnya dan memakai jaketnya kembali.

"Ayo pergi saja, aku tidak apa-apa" Jin Sook meyakinkan Ho Tae.

Ho Tae merasa tidak enak pada Jin Sook, ia lalu menawari Jin Sook secangkir teh hangat dan makanan. Jin Sook menolaknya dengan canggung, ia beralasan di penjara nanti pasti akan dapat makanan.


"Akhir-akhir ini makanan di penjara tidak enak. Tunggulah sebentar, akan kubelikan sedikit makanan" Ho Tae lalu pergi keluar membeli makanan.

Saat Ho Tae sedang keluar, Jin Sook langsung merenggangkan tbuhnya, melihat-lihat isi rumah Ho Tae dan menikmati kebebasaannya sesaat seperti orang yang tidak sedang sakit.


Saat Ho Tae dalam perjalanan kembali, dia ditelepon oleh rekan kerjanya yang menanyakan hasil penyelidikan Ho Tae. Tapi Ho Tae berbohong bahwa dia tidak bertemu dengan si tersangka pelaku tabrak lari. Ho Tae memberitahu bahwa sekarang dia sudah pulang karena pipa air di rumahnya bocor.


Saat sedang menyeduh teh, Jin Sook yang tadinya tidur akhirnya terbangun sambil batuk-batuk. Ho Tae bertanya cemas apakah Jin Sook tidak mau istirahat lebih lama lagi.

"Tidak, sudah waktunya pergi."


Tapi Ho Tae tidak tega membawanya ke kantor polisi dalam keadaan sakit begini, jadi sebaiknya mereka menunggu flunya sembuh dulu baru ke kantor polisi. Jin Sook lalu bertanya-tanya, jika mereka ingin menunggu flunya sembuh, apakah dia boleh pulang dulu.


Tapi Ho Tae tidak memperbolehkannya pulang apalagi dalam situasi seperti sekarang ini.

"Tapi, saat aku masuk ke sini sudah terekam oleh CCTV."

Jin Sook menghitung ada sekitar 8 CCTV dalam perjalanannya ke apartemen Ho Tae, jadi seharusnya dia dan Ho Tae pasti sudah terekam di semua kamera CCTV itu.

Jin Sook bertanya-tanya apakah Ho Tae tidak akan apa-apa jika ia tertangkap basah terekam di kamera CCTV bersamanya.

"Ah, tidak apa-apa" Ho Tae yakin itu


Saat sedang menikmati tehnya, pandangan Jin Sook tiba-tiba tertarik pada koleksi mainan milik Ho Tae yang terjejer rapi di sebuah rak.

"Kau seperti anak kecil saja, punya mainan sebanyak ini"

"Bisa dibilang ini adalah hobiku satu-satunya"

Jin Sook tertarik pada sebuah mainan robot yang mengingatkannya pada karakter komik yang ia baca saat ia masih kecil.


Ho Tae memberitahu Jin Sook bahwa mainan yang sedang dipegangnya itu adalah sebuah mainan edisi terbatas yang hanya ada 100 buah di seluruh dunia dan dibuat pada tahun 1979.

"Suatu hari aku ditelepon oleh salah satu kolektor. Dia bertanya apakah aku mau menjual mainan itu padanya seharga 10 juta..." ujar Ho Tae dengan bangga dan membuat Jin Sook kagum.

Saat Jin Sook berusaha untuk memutar tangan robot mainan itu, tiba-tiba tangan si robot patah. Jin Sook terkejut tapi saat dia berpaling pada Ho Tae ternyata Ho Tae masih asyik berceloteh dan sama sekali tidak menyadari apa yang telah diperbuat oleh Jin Sook pada mainan kesayangannya itu.


"Lengannya...putus " Jin Sook merasa tidak enak hati saat dia menunjukkan lengan patah si robot pada Ho Tae

Ho Tae sangat shock melihatnya namun dia berusaha untuk menahan emosinya "Tidak apa-apa."

"Akan kucoba memperbaikinya" ujar Jin Sook sambil berusaha memperbaiki si robot. Tapi ternyata usahanya malah membuat tubuh si robot kesayangan Ho Tae patah jadi dua.


Kali ini perbuatan Jin Sook itu benar-benar membuat wajah Ho Tae jadi memerah penuh amarah. Jin Sook jadi merasa bersalah, maka dia langsung menaruh si robot kembali ke rak lalu terbatuk-batuk lagi.

"Sepertinya flunya bertambah parah. Aku istirahat sebentar" ujar Jin Sook yang jelas sedang berusaha menghindari masalah dengan menggunakan penyakitnya, dan Ho Tae hanya bisa bengong dengan muka merah melihat kelakuan Jin Sook.

Saat Jin Sook sedang tidur nyenyak, Ho Tae menghabiskan malam untuk mengoperasi si robot.


Saat ia hendak mengelem bagian tangan si robot yang patah, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara batuk-batuk Jin Sook. Ho Tae berbalik untuk melihat keadaan Jin Sook tapi ternyata dia sudah kembali melanjutkan tidur nyenyaknya.

Ho Tae lalu kembali mengalihkan pandangannya pada si robot tapi malah terkejut melihat ternyata lengan si robot tertempel ke kepalanya. Ho Tae langsung beranjak bangkit dengan kesal pada Jin Sook.


Namun saat ia melihat wajah Jin Sook yang sedang tidur, amarah Ho Tae sirna seketika. Ho Tae mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Jin Sook, namun tiba-tiba Jin Sook membuka matanya.


Ho Tae jadi salah tingkah lalu cepat-cepat mengubah sentuhannya menjadi pemeriksaan demam lalu ia cepat-cepat kembali ke mainan robotnya.


Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment