Sinopsis Ugly Duckling - Don't Episode 5

Sinopsis Ugly Duckling - Don't Episode 5

Love Quote: 
Kelembutanmu membuatku jadi lebih kuat. 


Vivienne dan teman-temannya benar-benar bersikap kelewatan, bukan cuma membully Maewnam tapi juga menenggelamkannya ke kolam padahal mereka tahu kalau Maewnam tidak bisa berenang.

Vivienne terang-terangan mengaku kalau dia marah pada Maewnam karena sejak Maewnam datang, dia mencuri perhatian semua orang termasuk Zero.

Dia mencintai Zero dan selalu berharap Zero akan membuka hati untuknya. Tapi gara-gara Maewnam, Zero malah mengumumkan pada semua orang kalau dia tidak pernah setuju dengan pertunangan mereka. Gara-gara Maewnam, Zero menolaknya di hadapan semua orang.

"Tapi aku tidak tertarik pada Zero, Vivienne"

Plak!!! Vivienne tidak percaya dan terus memaksa Maewnam untuk mengaku kalau dia tengah berusaha mencuri Zero darinya.


Teman-temannya Vivienne langsung maju dan membully Maewnam lagi, bahkan kali ini pembullyan yang mereka lakukan pada Maewnam jauh lebih parah dari sebelumnya dan parahnya lagi mereka bahkan merekam semua pembullyan ini.

Tapi untunglah Minton dan Ozone cepat datang menolongnya dan merebut rekaman pembullyan Maewnam.


Minton langsung marah-marah dan ingin balas memukul Vivienne, tidak peduli bahkan sekalipun dia harus memukul perempuan karena apa yang Vivienne lakukan pada Maewnam jelas sudah sangat keterlaluan.

Tapi Maewnam tetap berbaik hati dan menghentikan Minton sebelum Minton sempat mengayunkan tinjunya ke Vivienne. Maewnam bahkan menyatakan akan pergi karena dialah penyebab masalah ini.


Ozone dan Minton membawa Maewnam keluar dari sana. Mereka ingin membawanya ke rumah sakit tapi Maewnam menolak, dia bahkan tidak membiarkan Minton menyentuhnya dan pulang sendirian.


Di tengah jalan, Maewnam menemukan sebuah cermin pecah. Dia menatap bayangan wajahnya di kaca dan melihat bekas-bekas tamparan teman-temannya Vivienne.

Semua ini membuatnya kembali teringat saat dulu dia dihina dan dicaci sebagai orang jelek. Kepercayaan diri Maewnam akhirnya hancur lagi sampai-sampai dia kembali seperti dulu, menutupi wajahnya dengan tas karton.


Dia berjalan dan terus berjalan dengan wajah tertutup kertas karton tanpa menyadari kehadiran Zero yang sedari tadi mengikutinya.

Saat Maewnam duduk di bangku, Zero akhirnya mendekatinya dan duduk disampingnya "Jadi kau kembali jadi gadis kepala kardus seperti dulu?"

Zero berusaha menghibur Maewnam tapi Maewnam malah gemetaran. Zero jadi cemas melihatnya. Maewnam berkata kalau dia baik-baik saja. Tapi jelas saja Zero tidak percaya "Kau bohong. Denganku, kau bisa menunjukkan kelemahanmu"


Saat Maewnam terus gemetaran hebat, Zero jadi makin cemas dan langsung melepas tas karton Maewnam dari kepalanya dan mendapati Maewnam sesenggukan dengan wajahnya merah bekas tamparan "Siapa yang melakukan ini padamu?"

Maewnam langsung menangis dalam pelukan Zero "Tidak apa-apa, Maewnam. Aku ada disini"


Walaupun Maewnam sudah mulai tenang, dia tetap tidak mau memberitahu Zero tentang apa yang terjadi padanya "Dulu, kukira dunia luar itu hebat dan menyenangkan. Kukira aku akan menemukan teman baik dan punya kehidupan yang baik. Tapi saat aku benar-benar keluar, dunia malah jadi semakin menakutkan. Orang-orang yang kukira temanku ternyata mereka adalah musuhku"

"Karena itulah orang bilang 'jangan menilai orang dari penampilannya'. Kita harus mengenal mereka selama beberapa waktu untuk mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya"


"Aku akan berhenti sekolah"

"Dan mengurung dirimu di dalam rumah lagi?"

"Setidaknya di sana aku aman"

Zero meyakinkan Maewnam kalau terus-terusan mengurung diri di tempat aman itu tidak menyenangkan. Terluka itu memang tidak enak tapi hal itu pula bisa membuat diri kita jadi lebih kuat "Jangan menyerah semudah itu. Pikirkan berapa banyak pengorbanan saat kau memutuskan untuk melepas kardus itu dari kepalamu. Sudah terlalu terlambat untuk mundur sekarang. Semangatlah. Mulai sekarang, siapapun yang menyusahkanmu, aku akan menjatuhkan mereka untukmu"


Malam harinya, Zero mengantarkan Maewnam pulang. Setibanya di rumah, mereka mendapati Minton yang sudah menunggu Maewnam.

Sejak melihat Minton ingin menghajar Vivienne, Maewnam sekarang jadi takut pada Minton. Minton berusaha menjelaskan kalau dia jadi seperti tadi karena dia sangat marah atas apa yang Vivienne lakukan pada Maewnam.


"Tapi bagaimanapun mereka itu perempuan"

"Aku tidak peduli tentang gender mereka. Mereka membullymu dan membuatmu jadi seperti ini. Bagaimana kalau aku sampai datang terlambat?"

"Terima kasih, Minton. Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Tapi seharusnya kau tahu kalau aku benci dengan kekerasan"

Minton jadi merasa bersalah dan akhirnya meminta maaf atas kekasarannya tadi. Maewnam juga berterima kasih karena Minton telah menolongnya tepat waktu. Minton ingin membantu mengobati lukanya Maewnam, tapi Maewnam langsung menolaknya dan berkata kalau dia akan minta ayahnya saja yang mengobatinya.


Maewnam berusaha menyembunyikan luka-lukanya dari ayahnya dan mau langsung masuk kamar. Tapi melihat tingkah laku Maewnam sedikit aneh, pak kumis langsung menghentikannya.

Pak kumis memaksa Maewnam memperlihatkan wajahnya dan langsung kaget mendapati pipi Maewnam terluka. Plawan menduga yang melakukan itu pasti Zero, dia langsung marah dan bersumpah akan menghajar Zero. Tapi Maewnam cepat-cepat mengoreksi bukan Zero pelakunya.


Pak kumis marah besar dan menuntut Maewnam untuk memberitahu siapa orang yang melukai Maewnam sampai seperti ini. Pak kumis bahkan melarang Maewnam pergi sekolah lagi.

Maewnam berusaha menenangkannya dan memberitahu pak kumis kalau dia akan kembali ke sekolah dan menyelesaikan masalah ini sendiri. Maewnam sekarang tidak mau lagi menghindari masalah dengan mengurung dirinya di rumah terus-terusan.

Walaupun berat tapi pak kumis akhirnya mengizinkan Maewnam kembali ke sekolah... tapi dengan sebuah peringatan, Maewnam tidak boleh lagi dapat masalah jika tidak maka Maewnam tidak boleh kembali ke sekolah.


Keesokan harinya di sekolah, Minton dan Ozone menonton video rekaman pembullyan Maewnam.

Ozone punya ide untuk memposting video rekaman ini ke web sekolah agar semua orang tahu betapa kejamnya Vivienne yang sebenarnya. Minton yang benci setengah mati pada Vivienne, langsung menyetujui ide Ozone itu.


Setelah video itu ter-upload, Zero menontonnya dan langsung pergi melabrak Vivienne. Vivienne berusaha membela diri kalau dia melakukan semua itu karena dia mencintai Zero.

Tapi tetap saja perbuatannya itu jelas tidak bisa dibenarkan "Kalau kau marah karena aku tidak membalas cintamu, kau sakiti saja aku, jangan orang lain!"

Vivienne tidak mengerti memangnya apa kekurangannya dibanding Maewnam "Aku jauh lebih cantik dan pintar. Dia itu jelek"

"Jelek? Jelek kau bilang?! Vivienne, orang yang benar-benar jelek itu sebenarnya kau! Awalnya, kukira kita masih bisa jadi teman. Tapi sekarang, maaf saja, kurasa kau bahkan tidak pantas jadi teman"


Setelah mengetahui video rekamannya diupload Ozone, Maewnam langsung menggerutu. Ozone merasa apa yang dilakukannya ada baiknya, buktinya dia dengar Vivienne barusan dilabrak sama Zero dihadapan orang banyak.

Ozone penasaran, karena sekarang Minton sedang dihukum (dihukum oleh pihak sekolah karena dia yang mengupload video rekaman pembullyan Maewnam), lalu bagaimana Maewnam pulang nanti? Naik bis, kata Maewnam.


Saat mereka hendak pulang, Ozone mendapati seorang pria berdiri diluar pagar dan terus menerus melihat ke arah Maewnam.

Maewnam jadi takut karena dia tidak mengenal pria itu. Ozone berusaha menenangkan Maewnam karena dilihat dari penampilannya, pria itu tampaknya tidak berbahaya.


Tapi saat Maewnam keluar dari sekolah, pria itu malah membuntutinya. Bahkan saat Maewnam naik bis pun, pria itu juga langsung ikut naik.

Dan parahnya lagi, tiba-tiba ada seorang pria yang duduk disamping Maewnam. Jelas saja Maewnam jadi semakin ketakutan.

 

Tapi ternyata yang duduk di sebelahnya adalah Zero yang sedari tadi sengaja membuntuti Maewnam dan menjaganya dari si pria asing yang duduk di belakang itu.


Zero penasaran siapa pria itu? temannya Maewnam kah? Tentu saja tidak, kata Maewnam. Cemas, Zero langsung menyeret Maewnam turun sekarang juga. Dan usahanya sukses membuat si pria asing gagal membuntuti Maewnam.

Tiba-tiba ada sebuah mobil yang hampir saja menabrak Maewnam. Zero bergerak cepat menyeret Maewnam menepi lalu melabrak si pengemudi. Si pengemudi marah dan jadilah kedua pria itu saling berkelahi.


Gara-gara masalah itu, Zero langsung dibawa ke kantor polisi. Tapi dia berhasil keluar dengan cepat berkat bantuan seorang pengacara yang mengeluh sudah capek membantu Zero keluar penjara terus.

Zero dengan santainya memberitahu Maewnam kalau dia sudah jadi pengunjung tetap di kantor polisi ini, bahkan kalau Maewnam mau mencarinya, Maewnam bisa menemukannya di kantor polisi atau di rumah sakit atau di sekolah.

Maewnam tidak percaya melihatnya, bagaimana bisa Zero tersenyum padahal dia baru saja keluar dari kantor polisi. Zero berkata kalau dia seperti ini gara-gara Maewnam karena Maewnam selalu membuatnya cemas. Maewnam langsung speechless.


Setelah itu, mereka duduk di pinggir sungai dimana Maewnam membantu mengobati lukanya Zero. Zero mengeluh sakit tapi Maewnam langsung memprotesnya, si pengemudi yang Zero hajar itu pasti terluka jauh lebih banyak daripada Zero.

"Kalau dia benar-benar menabrakmu, apa yang kulakukan padanya sama sekali tidak sebanding"

"Tapi aku kan tidak tertabrak. Aku masih hidup"

"Syukurlah kau masih hidup. Jika tidak, walaupun aku menghajarnya sampai dia mati, aku tidak akan bisa memilikimu kembali"

Maewnam terus menggerutu sampai membuat Zero protes dan mengancam, kalau Maewnam tidak mau berhenti mengomel "Maka aku akan menciummu" Maewnam langsung tutup mulut. hehe!


Maewnam bertanya-tanya kenapa Zero menyukai tempat ini? Karena tempat ini tenang, ujar Zero. Maewnam tidak percaya mendengarnya. Orang kayak Zero yang setiap hari berkelahi di sana-sini, menyukai ketenangan? Maewnam tidak mengerti kenapa Zero selalu suka cari perkara.

Zero mengaku, bukannya dia suka cari perkara, hanya saja dia tidak bisa tinggal diam tiap kali melihat ada masalah. Dan satu-satunya cara yang dia tahu untuk menangani masalah hanyalah dengan kekerasan. Maewnam jadi penasaran, apa yang membuat Zero jadi seperti ini "Aku tahu, kau sebenarnya bukan orang jahat"


Flashback,
Dulu saat Zero masih kecil, dia punya seorang adik. Saat mereka sedang bermain, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang ke arah adiknya dan menabraknya. Adiknya Zero meninggal dunia seketika sementara si pengemudi melarikan diri dan tidak pernah tertangkap. Zero menyaksikan kejadian itu tapi dia tidak bisa berbuat apapun.


Kembali ke masa kini,
Kejadian itulah yang merubah Zero jadi seperti sekarang ini, kejadian itulah yang membuat Zero memutuskan untuk jadi orang yang kuat sebagai kompensasi atas rasa bersalah karena tidak bisa melindungi adiknya.

"Kau dan aku, punya masalah yang sama. Sementara aku memutuskan untuk melarikan diri dari masalah dan bersembunyi didalam kardus, kau memilih untuk membangun benteng untuk melindungi dirimu sendiri"

Tapi Zero tidak harus terus menerus bersikap kuat karena bersikap seperti itu pastinya melelahkan. Zero boleh bersikap lemah. Atau kalau Zero takut "Kau bisa menunjukkan kelemahanmu hanya padaku. Aku tidak akan menertawaimu"


Saat Maewnam pulang malam harinya, dia mendapati Minton di rumahnya yang sepertinya sedang memperlihatkan sesuatu pada pak kumis dan gara-gara itu pak kumis langsung mengomeli Maewnam. Maewnam heran, memangnya dia melakukan apa lagi? Pak kumis lalu memperlihatkan video rekaman saat Zero berkelahi dengan si pengemudi. Pak kumis marah-marah karena Maewnam bergaul dengan si tukang rusuh itu dan membuat masalah tiap hari.

"Hari ini Zero menyelamatkanku, ayah. Mobil itu hampir saja menabrakku. Karena itulah Zero... jadi marah besar pada si pengemudi"


"Aku jadi tidak yakin sekarang, apakah mengirimkannya kembali ke sekolah itu ide bagus atau buruk" kata Minton. (Hah? maksudnya?)

"Betul" kata pak kumis

Maewnam heran mendengar ucapan mereka berdua yang jelas-jelas aneh. Apalagi setelah kata-kata itu terucap, mereka berdua langsung canggung dan berusaha mengalihkan topik dengan mengeluh lagi tentang betapa berbahayanya Zero lagi. Pak kumis bahkan terang-terangan memuja-muji Minton dan menuntut Maewnam untuk berhenti bergaul dengan berandalan semacam Zero.


Kesal dengan sikap ayahnya, Maewnam langsung curhat ke teman-temannya du ugly duckling club. Tapi jelas saja teman-temannya lebih mendukung ayahnya Maewnam, ayahnya Maewnam melarang Maewnam bergaul dengan seorang berandalan kan demi kebaikan Maewnam juga.

Maewnam tidak setuju dengan mereka karena selama ini Zero sangat baik padanya. Mereka jadi penasaran, apa Maewnam menyukai Zero.

Maewnam bersikeras menyangkalnya, dia hanya merasa kalau Zero itu sebenarnya bukan orang jahat. Lalu bagaimana dengan Minton? tanya teman-temannya. Hmm... jangan-jangan Maewnam menyukai keduanya.


Keesokan harinya, Minton mengajak Maewnam piknik berdua. Minton seperti biasanya, menggodai Maewnam terus. Dia lalu tanya apa Maewnam bahagia saat bersamanya?

Maewnam menjawab itu karena Minton adalah temannya. Minton kecewa karena bukan jawaban seperti itu yang dia inginkan. Dia langsung mengingatkan Maewnam kalau dia ingin jadi lebih dari sekedar teman.

Walaupun Maewnam pernah menyatakan cintanya tapi orang yang dihadapannya waktu itu bukan dia. Karena itulah, Minton ingin mendengar pengakuan Maewnam itu sekali lagi.


Maewnam ragu, Minton langsung mendekatkan wajahnya dengan penasaran. Tapi karena wajahnya Minton kelihatan lucu banget, Maewnam langsung memotretnya dan ingin menguploadnya ke FB.

Minton langsung menggerutu karena Maewnam malah becanda di saat seperti ini. Dia menghentikan Maewnam dan kembali menuntut jawaban Maewnam. Maewnam langsung terdiam ragu. Minton kecewa tapi dia memutuskan untuk tidak memaksa Maewnam jika Maewnam tidak siap.


"Maafkan aku, Minton"

"Kenapa minta maaf? Kau kan belum menolakku, iya kan? Aku ini orang yang gigih. Lihat saja nanti, kau akan tahu kemampuannya dan betapa seksinya aku"

"Kau itu terlalu kepedean"


Malam harinya, Minton mengantarkan Maewnam pulang. Minton melaporkan segala kegiatan mereka hari ini dengan sangat detil pada pak kumis yang langsung menanggapi semuanya dengan berbagai pujian dan dukungan.

Maewnam jelas heran melihat sikap ayahnya yang sepertinya sangat menyukai Minton.


Saat Maewnam kembali ke kamarnya, dia malah mendapati Zero sedang berbaring santai di kasurnya. Maewnam langsung panik dan berusaha memaksa Zero untuk keluar tapi usahanya mengusir Zero gagal total karena Zero sangat keras kepala tidak mau bangkit dari kasur.

Maewnam memberitahu Zero kalau ayahnya melarangnya untuk bergaul dengan Zero tapi Zero denga santainya bilang kalau aturan dibuat untuk dilanggar. Untuk apa sih Zero datang? tanya Maewnam.

"Hari ini, kau pergi kencan dengan si cowok angkuh itu. Apa kau senang?"

Maewnam mendesah mendengarnya, jadi Zero datang hanya untuk menanyakan masalah sepele itu? Zero terus menuntut jawaban Maewnam.

Kesal, Maewnam berkata kalau iya dia senang, Minton membuatnya tertawa sepanjang hari ini. Zero cemburu, setiap kali Maewnam bersamanya, ekspresi Maewnam biasanya marah atau menangis atau ngomel-ngomel "Apa kau tidak pernah merasa senang bersamaku?"

"Tidak pernah, kau selalu membuatku cemas, tahu tidak? Kau orang yang selalu membuat kepalaku sakit"

Zero langsung senang mendengarnya, jadi Maewnam mengkhawatirkannya? Puas mendapat jawaban yang diinginkannya, Zero akhirnya mau bangkit dan beranjak pergi.


Keesokan harinya di sekolah, Maewnam dan Ozone membahas tentang 2 cowok yang mengejar Maewnam. Maewnam mengaku kalau sekarang dia tidak yakin dengan perasaannya pada Minton tapi dia juga bingung dengan perasaannya pada Zero.

Ozone tidak setuju kalau Maewnam menyukai Zero, dia itu preman no.1 di sekolah ini jadi Maewnam harus menjauh sejauh mungkin dari Zero.

"Aku tahu itu. Aku sudah berusaha menghindar sejauh mungkin darinya. Tapi dia selalu punya cara untuk kembali padaku. Aku bahkan tidak tahu dimana dan kapan dia muncul"

Ozone terus berusaha meyakinkan Maewnam kalau Minton itu baik, tampan, perhatian, dll. Tapi semua pujian Ozone itu malah membuat Maewnam curiga, jangan-jangan Ozone menyukai Minton.

Ozone menyangkalnya dan bersikeras kalau dia hanya ingin menyatukan Minton dan Maewnam tapi Maewnam tidak percaya.


Saat Maewnam hendak pulang, si pria asing yang kemarin diam-diam membuntutinya itu muncul lagi. Kali ini, dia bahkan tidak repot-repot membuntuti Maewnam dan langsung menghadang Maewnam.

Zero datang tepat saat itu juga dan langsung melabrak si pria asing itu. Pria itu memperkenalkan namanya adalah Ter, dia lalu memberitahu Maewnam bahwa dia dan Maewnam dulu sekolah di SD yang sama dan dia adalah salah satu anak yang dulu pernah mengatai Maewnam jelek.


Ter mengaku kalau dia menunggui Maewnam didepan gerbang sekolah karena dia ingin meminta maaf atas apa yang pernah dia perbuat pada Maewnam dulu. Dia meyakinkan Maewnam kalau anak-anak itu dulu mengejek Maewnam sebenarnya hanya untuk bercanda.

Maewnam tidak percaya mendengarnya, biarpun menurut mereka semua itu cuma bercanda tapi apa yang mereka lakukan padanya telah membuatnya jadi sangat menderita sampai-sampai dia mengurung dirinya didalam kardus selama bertahun-tahun.

"Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf karena membuatmu merasa buruk. Maafkan aku. Tolong jangan marah, aku benar-benar minta maaf, Maewnam"  saat Maewnam masih tidak menjawabnya, Ter bertanya-tanya "Kenapa kau bisa memaafkan Minton tapi aku tidak?"

Hah?... Ternyata Minton adalah anak yang dulu Maewnam tembak tapi kemudian menolak Maewnam dan mengatai Maewnam jelek. Minton lah anak yang pertama kali mengatai Maewnam jelek.


Bersambung ke episode 6

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam